Hari ke-1: Pengkhianatan diatas Ikatan
Bagaimana perasaanmu
ketika kau mempunyai kekasih namun ternyata kekasihmu tidak mencintaimu? Kau pernah
mengalaminya? Aku pernah. Dulu, ceritanya... aku mempunyai seorang kekasih yang
sangat aku cintai. Aku memujanya dan kami selalu bersama, namun karena ada
tugas dari sekolah dan mengharuskan dia menjadi ketua MOS di sekolah kami
menjadi terpisah oleh waktu. Dia bekerja dengan rekan-rekan se-tim yang satu
sekolah dengan kami. Aku memberinya
waktu agar ia bisa fokus dengan segala urusannya. Namun yang kudapatkan
akhirnya adalah ia sudah memudarkan cintanya padaku dan melukiskannya untuk
wanita lain, dua wanita lain.
Tidak ada yang
tahu bagaimana hancurnya hatiku saat itu. Saat lelakiku mempunyai tugas berat
yang diembannya aku hanya ingin melihatnya sukses dengan berada dibelakangnya,
namun ternyata dihadapannya telah ada dua wanita yang mengajaknya untuk saling
mengedipkan mata. Aku, dua tahun menemaninya. Aku yang selalu ada untuknya. Dia
yang selalu menguatkanku, dia yang selalu mengatakan “masalah Cuma segini aja
minta putus, gimana kalo kita udah nikah?”. Dia yang selalu ada untukku. Semua hilang.
Semua berbalik. Dia tak mau menemuiku. Bahkan ia meminta putus dariku. Saat itu
aku sudah merasa ada beberapa wanita lain yang sedang dekat dengannya.
Ternyata memang
begitu. Akhirnya setelah aku temukan banyak bukti di media sosial dan Hpnya aku
jadi mengerti, bahwa lelaki memanglah tidak pantas dicintai dengan sepenuh
hati, lelakiku. Aku seharusnya meninggalkannya saat itu. Namun entah mengapa
aku belum bisa. Mungkin karena dua tahun, mungkin karena terlalu lama ia
dihatiku. Hingga tak semudah membalikan telapak tangan jika aku ingin mengusir
bayangnya dalam hidupku. Saat itu aku berdoa kepada Tuhan untuk apa yang
terbaik untukku. Jika memang ia musibah didalam hidupku, setidaknya ia
mengajariku untuk menjadi kuat ketika memang kesetiaan dipertanyakan.
Segala tangisku
untuknya terbayar dengan sia-sia. Ia menuliskan tentang wanita-wanita barunya,
bukan tentangku. Dan saat itu aku hanya bisa diam dan berkaca, aku memang tidak
secantik wanita itu namun aku adalah makhluk hidup yang mempunyai hati dan
perasaan. Hatiku saat itu seperti keramik yang dijatuhkan dari lantai 20 sebuah
hotel. Seperti kertas yang sedang perlahan hangus terbakar. Seperti butiran
padi di lereng gunung yang teraliri magma letusan gunung. Aku hanya bisa terdiam
di sudut ruang. Aku sudah tidak bisa lagi menangis, entah karena terlalu sakit
hingga matinya rasa di hatiku atau jiwaku yang lama telah berganti dengan yang
baru.
Aku merasakan
setiap detail kesakitan yang menggerogoti hatiku. Pengkhianatan adalah tanda
dari kemunafikkan. Aku mencintai orang munafik. Aku mencintai seorang penipu. Aku
mencintai seseorang yang tidak mencintaiku namun berstatus kekasihku. Benarkah aku
wanita yang tak punya muka dan harga diri? Hingga aku rela dijadikan kekasih
tanpa dicintai. Benarkah aku sebuah kedok demi berjalannya sebuah misi yang
belum aku ketahui? Dan aku masih diam disini menanti waktu misi itu telah
berhasil dilaksanakan. Sebegitu bodohnya kah diriku hingga aku bisa ditipu
berulang kali? Ini bukan cinta, ini adalah kebodohanku. Karena cinta tidaklah
bertepuk sebelah tangan.
Aku berjalan
diatas bara, aku merasa panas dan sakit. Aku merasa kulit kakiku mulai
terbakar. Namun aku tidak mau keluar dari lintasan bara ini. Siapa yang tidak
mau? aku. Siapa yang bodoh? Sudah tentu hati yang bodoh, dia membodohiku dengan
memberikan harapan-harapan tentang masa depan bahwa aku akan bahagia dengannya.
Dan seperti biasa otak selalu berbicara, bahwa kebohongan adalah candu. Jika sekarang
ia sudah mentigakanmu, bagaimana jika kalian menikah? Poligami dengan 4 orang
istri? Kau mau? tentu tidak. lalu apa yang akan ku lakukan? Aku hanya bisa diam
dan melihat dengan jeritan-jeritan di hatiku ketika aku melihatnya. Aku tidak
akan menyampaikannya, karena rasa sakit yang kurasakan ini tiada duanya.
Maka
kuputuskan mengadu kepada Tuhan agar bersedia mengangkat rasa sakit ini. Tuhan,
aku mencintainya namun ia tidak mencintaiku. Lalu untuk apa aku menjalin ikatan
dengan dia? Tuhan selamatkan aku dari hilangnya arah hidupku karena jebakan
syaitan yang terkutuk dengan permainan hati yang ia lakukan kepadaku telah
memudarkan pandangan masa hidupku. Aku terjatuh didalam palung yang dalam. Dan kau
tahu apa untungnya aku? Beruntungnya aku adalah seorang wanita. Beruntungnya aku
masih mempunyai hati. Beruntungnya, setiap wanita yang disakiti akan mempunyai
caranya tersendiri untuk membalas apa yang telah dilakukan. Dengan air mata,
dengan tindakan, dan dengan doa. Aku yang tersakiti. Aku yang kaub khianati,
dan aku yang akan menerima jatah kebahagiaan hidupmu nanti.
Let's Move on friend :)
ReplyDeletesekedar mengingat cerita di masa lalu friend :)
ReplyDeletethanks ya !