Sunday, January 6, 2013

Penghianatan diatas Ikatan


Hari ke-1: Pengkhianatan diatas Ikatan  

 


Bagaimana perasaanmu ketika kau mempunyai kekasih namun ternyata kekasihmu tidak mencintaimu? Kau pernah mengalaminya? Aku pernah. Dulu, ceritanya... aku mempunyai seorang kekasih yang sangat aku cintai. Aku memujanya dan kami selalu bersama, namun karena ada tugas dari sekolah dan mengharuskan dia menjadi ketua MOS di sekolah kami menjadi terpisah oleh waktu. Dia bekerja dengan rekan-rekan se-tim yang satu sekolah dengan kami.  Aku memberinya waktu agar ia bisa fokus dengan segala urusannya. Namun yang kudapatkan akhirnya adalah ia sudah memudarkan cintanya padaku dan melukiskannya untuk wanita lain, dua wanita lain.
Tidak ada yang tahu bagaimana hancurnya hatiku saat itu. Saat lelakiku mempunyai tugas berat yang diembannya aku hanya ingin melihatnya sukses dengan berada dibelakangnya, namun ternyata dihadapannya telah ada dua wanita yang mengajaknya untuk saling mengedipkan mata. Aku, dua tahun menemaninya. Aku yang selalu ada untuknya. Dia yang selalu menguatkanku, dia yang selalu mengatakan “masalah Cuma segini aja minta putus, gimana kalo kita udah nikah?”. Dia yang selalu ada untukku. Semua hilang. Semua berbalik. Dia tak mau menemuiku. Bahkan ia meminta putus dariku. Saat itu aku sudah merasa ada beberapa wanita lain yang sedang dekat dengannya.
Ternyata memang begitu. Akhirnya setelah aku temukan banyak bukti di media sosial dan Hpnya aku jadi mengerti, bahwa lelaki memanglah tidak pantas dicintai dengan sepenuh hati, lelakiku. Aku seharusnya meninggalkannya saat itu. Namun entah mengapa aku belum bisa. Mungkin karena dua tahun, mungkin karena terlalu lama ia dihatiku. Hingga tak semudah membalikan telapak tangan jika aku ingin mengusir bayangnya dalam hidupku. Saat itu aku berdoa kepada Tuhan untuk apa yang terbaik untukku. Jika memang ia musibah didalam hidupku, setidaknya ia mengajariku untuk menjadi kuat ketika memang kesetiaan dipertanyakan.
Segala tangisku untuknya terbayar dengan sia-sia. Ia menuliskan tentang wanita-wanita barunya, bukan tentangku. Dan saat itu aku hanya bisa diam dan berkaca, aku memang tidak secantik wanita itu namun aku adalah makhluk hidup yang mempunyai hati dan perasaan. Hatiku saat itu seperti keramik yang dijatuhkan dari lantai 20 sebuah hotel. Seperti kertas yang sedang perlahan hangus terbakar. Seperti butiran padi di lereng gunung yang teraliri magma letusan gunung. Aku hanya bisa terdiam di sudut ruang. Aku sudah tidak bisa lagi menangis, entah karena terlalu sakit hingga matinya rasa di hatiku atau jiwaku yang lama telah berganti dengan yang baru.
Aku merasakan setiap detail kesakitan yang menggerogoti hatiku. Pengkhianatan adalah tanda dari kemunafikkan. Aku mencintai orang munafik. Aku mencintai seorang penipu. Aku mencintai seseorang yang tidak mencintaiku namun berstatus kekasihku. Benarkah aku wanita yang tak punya muka dan harga diri? Hingga aku rela dijadikan kekasih tanpa dicintai. Benarkah aku sebuah kedok demi berjalannya sebuah misi yang belum aku ketahui? Dan aku masih diam disini menanti waktu misi itu telah berhasil dilaksanakan. Sebegitu bodohnya kah diriku hingga aku bisa ditipu berulang kali? Ini bukan cinta, ini adalah kebodohanku. Karena cinta tidaklah bertepuk sebelah tangan.
Aku berjalan diatas bara, aku merasa panas dan sakit. Aku merasa kulit kakiku mulai terbakar. Namun aku tidak mau keluar dari lintasan bara ini. Siapa yang tidak mau? aku. Siapa yang bodoh? Sudah tentu hati yang bodoh, dia membodohiku dengan memberikan harapan-harapan tentang masa depan bahwa aku akan bahagia dengannya. Dan seperti biasa otak selalu berbicara, bahwa kebohongan adalah candu. Jika sekarang ia sudah mentigakanmu, bagaimana jika kalian menikah? Poligami dengan 4 orang istri? Kau mau? tentu tidak. lalu apa yang akan ku lakukan? Aku hanya bisa diam dan melihat dengan jeritan-jeritan di hatiku ketika aku melihatnya. Aku tidak akan menyampaikannya, karena rasa sakit yang kurasakan ini tiada duanya.
Maka kuputuskan mengadu kepada Tuhan agar bersedia mengangkat rasa sakit ini. Tuhan, aku mencintainya namun ia tidak mencintaiku. Lalu untuk apa aku menjalin ikatan dengan dia? Tuhan selamatkan aku dari hilangnya arah hidupku karena jebakan syaitan yang terkutuk dengan permainan hati yang ia lakukan kepadaku telah memudarkan pandangan masa hidupku. Aku terjatuh didalam palung yang dalam. Dan kau tahu apa untungnya aku? Beruntungnya aku adalah seorang wanita. Beruntungnya aku masih mempunyai hati. Beruntungnya, setiap wanita yang disakiti akan mempunyai caranya tersendiri untuk membalas apa yang telah dilakukan. Dengan air mata, dengan tindakan, dan dengan doa. Aku yang tersakiti. Aku yang kaub khianati, dan aku yang akan menerima jatah kebahagiaan hidupmu nanti.

2 comments: