Friday, November 29, 2013

Hujan Sang Senja

Hujan Sang Senja 



Hujan ini tiada hentinya,
Seolah-olah bumi begitu merindukan rintihan,
dari langit yang syahdu ini.
Rintihan yang begitu menggelora.
Membakar asa.
Menyentuh sukma ditengah keheningan senja.
Secangkir kopi pun tidak mampu,
menahan desahan air yang begitu merdu.
Perjalanan yang begitu menawan dari sang air.
Menambah mesranya senja ini.
Ah, sudahlah!

-DF, 261112013-

NEGERIKU (?)

NEGERIKU (?)



Bagaimana bisa kukatakan negeriku baik-baik saja?
Sedangkan terkapar orang-orang sakit di jalanan ibukota
Bagaimana bisa kukatakan negeriku baik-baik saja?
Sedangkan jerit kelaparan menggema dari setiap sudut desa
Bagaimana bisa kukatakan negeriku baik-baik saja?
Sedangkan kasus korupsi masih saja menggila
Bagaimana bisa kukatakan negeriku baik-baik saja?
Sedangkan buruh masih saja dalam siksa dan terinjak harkatnya

Bagaimana bisa kukatakan negeriku adalah negeri yang merdeka?
Sedangkan produk-produk buatannya masih saja disangsikan massa
Bagaimana bisa kukatakan negeriku adalah negeri yang merdeka?
Sedangkan legalitas membuat batas yang menjelma kasta
Bagaimana bisa kukatakan negeriku adalah negeri yang merdeka?
Sedangkan ketimpangan pendidikan ada di desa, di kota, dimana-mana
Bagaimana bisa kukatakan negeriku adalah negeri yang merdeka?
Sedangkan sumbangsih pemudanya tak lagi membara

Bagaimana aku bisa percaya pada kapitalisme buta yang menutup nurani bangsa?
Bagaimana aku bisa percaya pada pembesar-pembesar yang membuat alamku tiada?
Bagaimana aku bisa percaya pada propaganda yang mengusir kekayaan budaya?
Bagaimana aku bisa percaya pada pemerintah yang hanya mengumbar kata-kata?

Lalu bagaimana ketika tak mudah lagi ditemukan pemuda yang mau menggunakan koteka?
Lalu bagaimana ketika tak mudah lagi ditemukan karya anak-anak bangsa?
Lalu bagaimana ketika tak mudah lagi menemukan rempah di negeri yang kata-nya kaya?
Lalu bagaimana ketika tak mudah lagi menemukan manusia yang ber etika?

Negeriku ini adalah negeri yang dulu mereka bilang kaya
Negeriku ini adalah negeri yang dulu mereka bilang berbudaya
Negeriku ini adalah negeri yang dulu mereka bilang beretika
Negeriku ini adalah negeri yang dulu mereka bilang surga
Tapi, kini berbeda.
Tapi, kini tiada.
Negeriku mulai lemah menyanggah moral dan etika
Negeriku mulai terkapar diantara propaganda lain bangsa
Negeriku mulai hilang ditelan globalisasi budaya
Negeriku mulai dihancurkan oleh bangsa nya

Alam, hentakkan kami ketika mulai mengebiri
Logika, jangan kau menyesatkan nurani
Tuhan, tolonglah negeri ini

-CDMA, dalam ramai yang hening di sudut kota. 30112013-

Tuesday, November 26, 2013

Lalu Bagaimana?


Lalu Bagaimana?


Aku terjatuh lagi,
Pada satu rasa yang membuatku geli
Betapa tidak? aku mengalaminya lagi dan lagi
Namun tak juga menemukan pola yang pasti.
Mereka menyebut ini dengan naluri hati.
Semudah itukah percaya nurani?
Jika tak berat hati,
Aku ingin membodohkan diri.
Diri yang jatuh pada rasa yang sama berulang kali.
Diri yang terbuai indahnya fatamorgana sunyi.
Diri yang menghempas pasrah pada bias empati.
Menghadirkan nyanyian elegi.
Kau sebut ini cinta?
Padahal penuh derita.
Padahal bersajak lara.
Padahal meringsuk duka.
Lalu apa guna asa?
Jika lagi lagi terulang luka.
Lalu bagaimana dengan nasib sang pujangga?
Penyair pemuja rasa,
Yang selalu menakdirkan dirinya menderita.
Padahal ia bisa bahagia.
Lalu bagaimana dirinya ada?
Ketika pikir dan lakunya dikudeta.
Oleh harapan semu berbalasnya rasa.
Oleh bahasa bahasa hampa.
Oleh wajah sang persona.
Lalu bagaimana?
Aku tak ingin diam dalam ragu.
Meski otak tak juga berkata mampu.
Meski rongga tubuh mulai layu.
Berharap ada waktu mengusir sendu.
Setapak dalam diam menggemuruh rindu.
Tidak, jangan tertipu.
Apalagi yang ingin kutahu?
Ketika cinta yang mulai merayu
Menghadirkan keindahan-keindahan semu
Sakit akan hadir menggelayuti kalbu
Menjadikannya abu.
Kembali ke sebuah masa lalu.
Mengulang duka menjadi candu.



-diantara sepi yang temaram, CDMA. 27102013-

Saturday, April 27, 2013

Diantara Waktu dan Tatapanmu

Diantara Waktu dan Tatapanmu


malam ini begitu syahdu
hai sang waktu, aku ingin bersajak kepadamu
tentang seseorang yang sering menatapku.
aku berharap roda kaca yang membatasi tak lagi mengganggu.

hai sang waktu, aku ingin jujur padamu,
jika kelak aku terkekang nada sebuah lagu,
ingatkan aku tuk berputar dan tidak menjadi gagu.
rengkuh aku diantara berpendarnya cahaya lampu.

kelak aku ingin menggenggam tubuhnya.
menatap tajam mata yang penuh logika.
imajinasi terbuka dan penuh warna.
dia begitu mempesona.. 

mungkin dibawah rembulan aku membalaskan dendam
mengecup garis tegas bibir dibawah malam
beradu diantara picikmu, memabukkan kalbu yang temaram.
melumat kesombongan atas ketampanan yang terpendam.

bersandarlah, pijaklah sebentar kediamanku.
rasakan saja sendu.
aku telah menyiapkan segala rindu,
untuk dibagi denganmu.

tatapan yang kubagi dengan sendu,
tak hanya hampa yang berakhir lusuh.
yang kuharap kau kan tahu,
bahkan diantara langit-langit yang terbentang, aku merindu.

-membagi tinta disaat malam mulai lusuh, CDMA-



Thursday, April 11, 2013

pernahkah kamu?

PERNAHKAH KAMU?



.pernahkah kau kehilangan sebuah cinta yang sedang membara di jiwa mu?
.pernahkah kau merasa terkhianati sesuatu yang belum tentu benar adalah milikmu?
.pernahkah kau percaya pada satu cinta yang selalu menemani harimu?
.pernahkah kau merasa hilang ketika menemukan kenyataan yang mendustaimu?
.pernahkah terbayang ketika seseorang yang memberimu alasan untuk bangun di pagi hari berjalan dengan pasangannya di depanmu lalu tersenyum dan mengatakan "aku tidak sendiri lagi" , seakan-akan dirimu hanyalah teman biasa baginya.
.setelah keistimewaan hari kalian yang dia beri untukmu dipastikannya, bahwa sesungguhnya kalian bukanlah apa-apa. bukan itu, bahwa kalian hanyalah sederhana. tidak rumit seperti apa yang kau pikirkan. bahwa kalian adalah teman. sahabat. dan tidak akan menjadi lebih. karena telah ada seseorang di hatinya. dan itu bukan kamu.

.ketika kau mulai merasa ada yang indah di harimu, ketika matahari tak lagi menjadi musuhmu, ketika pergantian hari adalah anugrah bagimu, lalu di satu malam kenyataan menghancurkannmu...
.kenyataan memberimu alasan untuk marah kepada dirimu sendiri, kenyataan memberimu alasan untuk menangis dan marah, kenyataan menyadarkanmu bahwa kamu adalah satu-satu nya orang yang paling bodoh dengan mencintai seseorang yang tidak seharusnya kau cintai...
.tahukah kau apa yang seharusnya kau lakukan sekarang?
.ketika waktu tak lagi berpihak padamu.
.ketika sebuah keputusan menghancurkanmu dan pilihan ada di depanmu.
.adakah kejernihan di pikiranmu untuk memilih ?

-dari catatan lalu, 81210-

HEY KAU

Hey Kau !



.hey kau !
.yang berjubah putih...
.mengapa hanya diam di sudut sana?
.dan mengapa kau terus memandangiku?
.adakah yang salah dengan diriku?
.adakah yang berbeda dengan ku?
.hey kau !
.jawablah pertanyaanku !
.aku tak melantunkan kata disini ,
.aku hanya bertanya .
.dan kau harus menjawab !
.hey kau !
.mengapa memalingkan muka ?
.terlalu hina kah pertanyaanku ?
.atau... kau tak ingin kutemukan jawaban di raut wajahmu ?
.lihat aku !
.ayo lihat aku !!!
.lihat aku saja , tatap mataku !
.jangan kau buatku terambing dalam penasaran !
.apa yang ada di mata mu itu ?
.cerca atau maki untukku ?
.kasih atau rindu padaku ?
.jika bibirmu tak mampu menjelaskan,
.tatap mataku !
.bicara dengan hatimu .
.hey...
.hey kau...
.apa karena benang merah di kelingkingku ini?
.oh, ini?
.sudahlah..
.tak tau juga dimana benang ini berakhir...
.tersenyumlah,
.hey kau..
.tersenyumlah meski dengan air mata..

-dari catatan lalu, 26311-

AKU , SEORANG REMAJA

 AKU 
SEORANG REMAJA


. aku , seorang remaja dengan tampang pas-pas an. 
mengarungi jalan setiap malam. melawan angin dikala siang , panas terik sang api merangsang keringat semakin gencar keluar dari tubuhku kala siang . 

aku seorang remaja tanpa pikiran . 
hanya mengandalkan angan dan harapan . 
tidak tau arti sopan dan kekuasaaan . 

setiap hari yang aku tahu hanya berjalan dan mengisahkan diriku di pepohonan , mengukir cerita hidupku .
tanpa percintaan , di batang-batang yang menjulang . akulah remaja tanpa arah tapi bertujuan ! 
menyongsong masa depan dengan kesederhanaan . 
pemikiran , kubiarkan semua berjalan .. 
memberikanku sebuah arti kehidupan . lalu ku simpan . dan kutunggu fajar datang untuk kuceritakan . 

akulah sang petualang . 
penikmat mimpi hingga sabang . 
ini negaraku . 
aku ingin semua menjadi apa yang seharusnya terjadi tanpa ada paksaan , tapi untuk kebaikan . kemiskinan , keberadaan , tak bisa kutepiskan . ini memang nyata . realita . 
jalan hidup yang aku pilìh adalah ini . 
memakan kemiskinan dan memuntahkan segala kemunafikan . 
semua tampak normal sejenak . tak disangka dibalik ketenangan tersimpan beribu kebobrokan moral . 
tak ada rasa kasihan ! hanya ada berita gusuran , janji janji kotang !
.aku , hanya ingin menjadi aku dengan ribuan harapan yang akan ku realita kan .





-dari catatan lalu, 28129-