Monday, January 7, 2013

Kesedihan (Benjana Kesedihan Wanita)

Hari Ke 2 : Benjana Kesedihan Wanita

  
Bagaimana kabar benjana air mataku hari ini? Ia sama sekali  belum memanggil namaku. Diantara hati  yang akan mati dan logika menghidupi aku tertatih mengejar citaku. Aku masih belum sanggup bangkit dari keterpurukan hidupku meski uluran tangan dari sekitarku telah berusaha menarikku. Mereka menarikku yang terjebak didalam pemikiranku sendiri. Menyadarkanku bahwa kesendirian bukanlah milikku. Semua orang pasti akan merasakan kesendirian di dalam hidupnya, dan itu wajar. Kewajaran sebatas apa aku tak tahu. Entah sebatas keindahan senja di langit atau fatamorgana pada malam hari. Yang jelas aku pernah mengagumi pelangi di malam hari.
Jika nanti aku hidup seribu tahun lagi, aku ingin dapat kesempatan memeluk bulan dengan pelangi di sisinya, yang merengkuhnya. Aku ingin turut menjelma kebahagiaan mereka. Aku rindu kebahagiaan. Aku rindu gelak tawa yang dulu ada di setiap hariku. Ya, dulu. Masa laluku. Masa lalu yang telah kulewati dan tidak mungkin bisa kuputar waktu untuk menjamahnya. Aku hanya bisa mengulang kembali beberapa memori indah disana. Kuputar di sebuah ruang di otakku, agar aku mampu mengingat bagaimana rasanya bahagia. Jika aku pernah terpuruk itu karena kebodohanku? Jika aku pernah terjatuh itu karena kecerobohanku? Atau itu hanyalah sekenario sang takdir? Ya, entahlah. Aku masih dalam kebimbangan akan perasaanku sendiri.
Aku mampu bangkit dari semua ini suatu hari nanti ketika takdir menemukanku dengan alurnya yang baru. Set ceria ke sekian untukku. Benarkah kekasih hanyalah tipu daya takdir agar aku tidak lagi kaku ketika bertemu jodohku? Benarkah ketika aku telah menjadi nomor dua, aku sudah tak dapat lagi menjadi nomor satu? Hati wanita. Aku saja tidak dapat memahaminya. Aku wanita yang juga ber-hati. Aku manusia yang mereka sebut wanita. Namun aku tak dapat menuntun mau hatiku. Aku akan menjadi bodoh ketika berhadapan dengannya. Aku akan menjadi bocah yang bisa ia tuntun kemanapun ia mau.
Hati wanita, sungguh. Aku bisa saja mengatakan hati wanita itu kejam, karena ketika ia sakit ia mampu melakukan apapun agar ia mampu sembuh. Bahkan dengan menyakiti hati lain. Aku juga dapat mengatakan bahwa ia rapuh, karena sesungguhnya ia mudah sekali terluka namun ego yang dimilikinya begitu tinggi hingga ketika luka kecil menyakitinya ia hanya akan menganggap itu sebagai butiran pasir dibawah kakinya. Namun memang ia mudah sekali terluka. Aku juga dapat mengatakan bahwa ia sangat kuat karena ia mampu menahan rasa sakit yang begitu dalam. Mungkin ia hanya membutuhkan untuk menceritakan kesakitan hatinya agar tidak salah jala yang akan ia pilih. Ya, hati wanita tak dapat kau tebak dengan begitu mudahnya. Bahkan aku pemiliknya tak dapat memahaminya. Jika kau tahu bisikkan padaku bagaimana agar aku mampu mengenalnya lebih dalam. Agar aku mampu melihatnya sebagai bagian dari diriku secara utuh.
Jika aku sakit, tidak kusalahkan takdir. Mungkin saat itu ia telah membuat kesepakatan dengan sang waktu agar ia mampu mengajariku untuk menjadi pribadi yang lebih kuat. Agar aku bisa menceritakan kepada sanak saudara dan teman-temanku betapa hidupku memang tidak semudah yang mereka bayangkan. Bahwa aku adalah wanita yang sama dengan mereka. aku adalah wanita yang juga tersakiti, yang juga tidak selalu dilingkupi keberuntungan. Aku berusaha berjalan meski duri dan kaca telah melukai tubuhku, karena aku wanita.
Aku hanya membutuhkan cinta yang tulus, berapapun cucur darah keluar dari tubuhku tak akan begitu masalah. Berapapun jumlah peluru yang menembus tubuhku, tak akan begitu terasa sakit. Selama tidak kalian jamah hatiku dengan kesakitan. Aku mampu melakukan apapun. Ya, aku wanita dan aku manusia biasa. Aku punya ruh didalam tubuhku. Aku punya jari-jari lentik yang biasa kugunakan untuk membelai orang-oang yang kusayang, juga untuk melayani mereka. Aku punya ribuan energi untuk melakukan segala pekerjaan. Aku punya banyak kasih untuk dibagikan. Ya, aku wanita. Aku masih seorang wanita. Aku juga masih seorang manusia. Jika aku pernah mengatakan bahwa aku adalah wanita yang kuat dan tidak akan tersakiti, kutegaskan kembali bahwa aku adalah manusia yang tidak mampu menjaga kata-kataku dalam setiap waktu agar bisa kutunaikan menjadi pebuatan.
Jangan kau salahkan aku yang terlahir menjadi anak manusia diantara bara dunia. Aku pun terkadang menjadi elegi bagi diriku sendiri. Aku pernah mencoba bermain dengan api. Dan aku sering terluka untuk hampir mati. Semua itu tak membunuhku. Karena Tuhan masih bersamaku, senantiasa mengirimkan malaikatnya untuk bercerita, kesedihan tak hanya milikku.




*Bagian dari 30 Hari Bercerita, semoga tulisan ini nyaman dibaca. Terimakasih :)*

No comments:

Post a Comment