Hari Ke 2 : Benjana Kesedihan Wanita
Bagaimana kabar
benjana air mataku hari ini? Ia sama sekali
belum memanggil namaku. Diantara hati yang akan mati dan logika menghidupi aku
tertatih mengejar citaku. Aku masih belum sanggup bangkit dari keterpurukan
hidupku meski uluran tangan dari sekitarku telah berusaha menarikku. Mereka menarikku
yang terjebak didalam pemikiranku sendiri. Menyadarkanku bahwa kesendirian
bukanlah milikku. Semua orang pasti akan merasakan kesendirian di dalam
hidupnya, dan itu wajar. Kewajaran sebatas apa aku tak tahu. Entah sebatas
keindahan senja di langit atau fatamorgana pada malam hari. Yang jelas aku
pernah mengagumi pelangi di malam hari.
Jika nanti aku
hidup seribu tahun lagi, aku ingin dapat kesempatan memeluk bulan dengan
pelangi di sisinya, yang merengkuhnya. Aku ingin turut menjelma kebahagiaan
mereka. Aku rindu kebahagiaan. Aku rindu gelak tawa yang dulu ada di setiap
hariku. Ya, dulu. Masa laluku. Masa lalu yang telah kulewati dan tidak mungkin
bisa kuputar waktu untuk menjamahnya. Aku hanya bisa mengulang kembali beberapa
memori indah disana. Kuputar di sebuah ruang di otakku, agar aku mampu
mengingat bagaimana rasanya bahagia. Jika aku pernah terpuruk itu karena
kebodohanku? Jika aku pernah terjatuh itu karena kecerobohanku? Atau itu
hanyalah sekenario sang takdir? Ya, entahlah. Aku masih dalam kebimbangan akan
perasaanku sendiri.
Aku mampu
bangkit dari semua ini suatu hari nanti ketika takdir menemukanku dengan
alurnya yang baru. Set ceria ke sekian untukku. Benarkah kekasih hanyalah tipu
daya takdir agar aku tidak lagi kaku ketika bertemu jodohku? Benarkah ketika
aku telah menjadi nomor dua, aku sudah tak dapat lagi menjadi nomor satu? Hati wanita.
Aku saja tidak dapat memahaminya. Aku wanita yang juga ber-hati. Aku manusia
yang mereka sebut wanita. Namun aku tak dapat menuntun mau hatiku. Aku akan
menjadi bodoh ketika berhadapan dengannya. Aku akan menjadi bocah yang bisa ia
tuntun kemanapun ia mau.
Hati wanita,
sungguh. Aku bisa saja mengatakan hati wanita itu kejam, karena ketika ia sakit
ia mampu melakukan apapun agar ia mampu sembuh. Bahkan dengan menyakiti hati
lain. Aku juga dapat mengatakan bahwa ia rapuh, karena sesungguhnya ia mudah
sekali terluka namun ego yang dimilikinya begitu tinggi hingga ketika luka
kecil menyakitinya ia hanya akan menganggap itu sebagai butiran pasir dibawah
kakinya. Namun memang ia mudah sekali terluka. Aku juga dapat mengatakan bahwa
ia sangat kuat karena ia mampu menahan rasa sakit yang begitu dalam. Mungkin ia
hanya membutuhkan untuk menceritakan kesakitan hatinya agar tidak salah jala
yang akan ia pilih. Ya, hati wanita tak dapat kau tebak dengan begitu mudahnya.
Bahkan aku pemiliknya tak dapat memahaminya. Jika kau tahu bisikkan padaku
bagaimana agar aku mampu mengenalnya lebih dalam. Agar aku mampu melihatnya
sebagai bagian dari diriku secara utuh.
Jika aku sakit,
tidak kusalahkan takdir. Mungkin saat itu ia telah membuat kesepakatan dengan
sang waktu agar ia mampu mengajariku untuk menjadi pribadi yang lebih kuat. Agar
aku bisa menceritakan kepada sanak saudara dan teman-temanku betapa hidupku
memang tidak semudah yang mereka bayangkan. Bahwa aku adalah wanita yang sama
dengan mereka. aku adalah wanita yang juga tersakiti, yang juga tidak selalu
dilingkupi keberuntungan. Aku berusaha berjalan meski duri dan kaca telah
melukai tubuhku, karena aku wanita.
Aku hanya
membutuhkan cinta yang tulus, berapapun cucur darah keluar dari tubuhku tak
akan begitu masalah. Berapapun jumlah peluru yang menembus tubuhku, tak akan
begitu terasa sakit. Selama tidak kalian jamah hatiku dengan kesakitan. Aku mampu
melakukan apapun. Ya, aku wanita dan aku manusia biasa. Aku punya ruh didalam
tubuhku. Aku punya jari-jari lentik yang biasa kugunakan untuk membelai orang-oang
yang kusayang, juga untuk melayani mereka. Aku punya ribuan energi untuk
melakukan segala pekerjaan. Aku punya banyak kasih untuk dibagikan. Ya, aku
wanita. Aku masih seorang wanita. Aku juga masih seorang manusia. Jika aku
pernah mengatakan bahwa aku adalah wanita yang kuat dan tidak akan tersakiti,
kutegaskan kembali bahwa aku adalah manusia yang tidak mampu menjaga
kata-kataku dalam setiap waktu agar bisa kutunaikan menjadi pebuatan.
Jangan kau
salahkan aku yang terlahir menjadi anak manusia diantara bara dunia. Aku pun terkadang
menjadi elegi bagi diriku sendiri. Aku pernah mencoba bermain dengan api. Dan aku
sering terluka untuk hampir mati. Semua itu tak membunuhku. Karena Tuhan masih
bersamaku, senantiasa mengirimkan malaikatnya untuk bercerita, kesedihan tak
hanya milikku.
*Bagian dari 30 Hari Bercerita, semoga tulisan ini nyaman dibaca. Terimakasih :)*
No comments:
Post a Comment