a k u
Hai bahagia, bagaimana kabarmu hari ini? sungguhpun aku mecintaimu, aku tidak ingin kehilangan dirimu, namun kau tak akan pernah kusyukuri ketika aku tak mengenal rasa sakit. Ya, seperti saat-saat dahulu saat kau selalu merangkulku dengan hangatnya. Saat tak pernah kudengar elegi di hariku. Kau ajarkan aku bagaimana tersenyum dan selalu berbuat baik kepada orang lain. Kau biarkan aku menari ditengah butir hujan dan tertawa lepas tanpa beban. Bahagia, aku merindukanmu.
Kini pedih telah mengenalku dan tak ingin melepas jeratnya dari tubuhku. Juga jiwaku. Pedih mengajarkanku untuk berhati-hati dan berbuat jahat kepada setiap orang. Ia tak akan membiarkanku memberi dan mengasihi. Pedih selalu mengikatku dan membuatku merasa sepi. Ia tak menyakitiku, hanya saja aku tersakiti dengannya. Jika ada satu waktu aku bisa menjauhinya, aku ingin pergi jauh meninggalkan pedih. Aku ingin menemukan bahagia kembali.
Rintik hujan malam ini membawaku ke beberapa masa silam. Dengan diriku yang selalu bertemu dengannya, ya dulu aku selalu bermain dengan hujan. Aku menantikannya setiap waktu, lalu aku akan bercinta dengannya pabila deras mulai mengguyur. Rintik membawa pesan kepada deras bahwa aku menantikannya, aku merindukannya. Tak perlu menunggu lama, deras akan menjawab rinduku dengan kedatangannya., lalu aku akan berlari mengejar dan memeluknya. Perlahan ia membasahiku, mengajakku bercanda dan bermain. Ya, hujan selalu dewasa memanjakanku.
Aku merindukan masa itu, masa kecilku. Dulu aku bahagia. Dan kurasa tidak hanya diriku yang merindukan masa kecil, kalian juga pasti akan merindukannya. Karena hanya pada saat itulah kita mempunyai banyak teman seperti bahagia, senang, dan bermain. Karena hanya pada saat ini, semua orang menganggap kita lemah dan tidak pantas untuk disakiti. Ya, hanya pada masa ini. Kita masih belum mempunyai banyak cerita untuk sekedar disombongkan, kita masih belum mempunyai banyak warna untuk ditaburkan di wajah.
Dulu, Ayah dan Bundaku menyayangiku, memberi segala inginku. Kini, aku menyayangi mereka dan ingin memberikan segalanya kepada mereka. Wejangan-wejangan itu masih sama sejak dari dahulu. Senyum itu masih sama. Kebanggaan atas gairah hidup yang mereka punya selalu menjadi semangatku berusaha. Mereka malaikatku. Meski sayapnya tak terlihat, mereka mampu membawaku terbang jauh melintasi galaxy dan orbit manapun yang kuinginkan.
Terimakasih Ayah, Terimakasih Bunda. Kalian adalah ruhku.




