Hari ke 6:
Zeus Sang Pangeran II
"Mainkan saja dulu, lempar dadu itu dan berjalanlah sesuka
aturmu. Lalu kau akan kembali padaku."
"sayatan hitam"
Kau ingat saat itu? Aku pernah datang ke kediamanmu, ya tempatmu
berdiam-diam mendesahkan kenikmatan. Dengan langkah cepat aku menujumu.
Sejengkal lagi pintu rumahmu. Mengayunkan gemetar tanganku untuk mengetuk pintu
itu. Tok, tok... tanganku terayun gontai dan terlihat ayu. Tidak perlu lama aku
berjejak di depan pintumu, kau membuka batas itu. Dengan melebarkan basah
bibirmu, kau menganjurkanku memasuki singgasanamu. Seperti biasa aku masuk dan
memeluk bayanganmu di belakang.
Ruang-ruang yang masih sama. Ruang televisi masih menjadi favoritku,
meskipun disini juga merupakan wadah kehancuranku. Benar saja, baru juga waktu
bergulir memintaku melihatmu membukakan pintu untuk gadis lain milikmu hari
ini. Tangannya mulai menggelayutimu. Manja. Dan pandangan aneh ke arahku pun
sudah menjadi kebiasaan. Kau sebut aku dengan adik sepupu, dan menggandengnya
melewatiku. Lagi-lagi kamar panas itu terisi. Sengaja kau eratkan pasangan
pintu itu agar aku tak ikut bernafsu. Apa? Kau tak ingin mengulitiku juga?
Perlahan desahan bergema di telingaku, tingginya jeritan televisi tak
mampu meredamnya. Panas yang menjalar di tubuhku mengumpulkan air di sudut
mataku. Lagi dan lagi. Desahannya, desahanmu, jeritanku. Kucoba mendesahkan
namamu, namun kenyataan menghantamku. Namamu masih didesahkan bibir gadis itu.
Kucoba mengunci kelopak mataku, seolah berada di bioskop aku mampu melihatnya
menunggangimu, mencengkrammu, membasuh tubuhmu dengan nafsu. Argh! Nikmatilah
sayang.
Jarum panjang itu sudah berjalan seratus delapan puluh derajat,
meletakkan tubuhnya di angka enam. Setengah jam berlalu dengan genangan air
mata masih tertimbun di kelopak mata. Bagaimanapun masih kusimpan rasa sakit
itu. Gesek pintu yang terbuka mendecit lirih, mencubit lamunanku.
Mengembalikanku ke realita. Menggeser arah wajahku kepada kalian. Kau dan dia
masih mencoba untuk saling membenarkan pakaian. Saling melempar senyum. Saling
mengusap kepala. Kulihat warnamu melemparkan kepuasan melalui pandangan.
Kau melihat kearahku, tersenyum. Perih ini kusadari, namun tak mampu kutepis.
“ Kamu sudah makan?”
“Belum lapar kok”
“Aku mau anter dia dulu, kamu disini aja. Aku belikan makan nanti”
Kau melenggang dengan sempurna disampingnya. Meninggalkan tetes airmataku
yang mulai menjadi alur. Begitu mudah kau pergi, begitu mudah aku menjeritkan
namamu. Suara serpihan daun yang tersapu ban mobilmu membisikkanku akan
kepergianmu. Dan kesakitan ini telah menjadi sebotol air mata dipangkuanku. Tak
ada kata, tak ada suara. Cukup air mata yang menggenggamku setelah segala
pikirku tertusuk luka atas sebuah nafsu.
Waktu menegurku, satu jam telah berlalu. Tapi rasa ingin menghentikan
tetes airmataku masih belum juga terbesit. Kukatupkan mataku yang mulai terasa
berat, sepertinya telah membengkak. Sepertinya, ya sepertinya. Lagi-lagi
kudengar serpihan daun didepan rumah menarik hatiku dan berbisik bahwa kau telah
kembali. Segera kupaksa kakiku melangkah cepat ke kamar mandi. Memutar keran
air di wastafel. Menadahkan kedua tanganku dibawahnya, lalu menampung setiap
buih yang turun. Kuangkat kedua tanganku perlahan dan menurunkan wajahku,
telapak tanganku mulai melempar setiap buih kesegaran untuk mengusap pori-pori
wajahku.
Sedikit lebih baik, keberuntungan menghinggapiku kali ini. Aku berjalan
ke ruang tivi. Disana, kau telah menyinggahkan tubuhmu pada sofa sembari
menyilangkan kedua kakimu . Kaos distro selalu terlihat pas di tubuhmu, memperlihatkan
setiap lekukan milikmu. Dadamu yang bidang melirikku. Mengajakku bercengkrama dalam diam. Kematian
mendekatiku, aku tidak tahan dengan bahagia dan sakit ini. Kau indah dalam
balutan apapun.
“Sudah aku belikan Nasi Goreng”
“Nanti saja”
“Makan dulu lah, kalo dingin nanti nggak enak”
“Oke deh kalo gitu”
Kuraih bungkusan yang tergeletak di atas meja, kulahap diatas meja makan.
Setelah selesai, aku kembali dan mengambil tempat disampingmu. Tidak pernah
terlewatkan, klimaks denyut nadiku selalu terjadi di dekatmu. Cangkir rinduku
telah membasahi rasa terdalam. Namun matamu masih lurus menatap televisi.
Pandangan yang selalu berbeda. Kosong, dingin. Berbeda, atau “mungkin berbeda”?
Mungkin.
“Udah makannya?” kau palingkan
tubuhmu kepadaku, memanah mataku dengan pandangan erotismu.
“Udah kok, Fredy mana?”
“Bentar lagi juga dateng. Tadi sih bilangnya ada gebetan baru haha”
“Anak mana emang?”
“Kampus sebelah kayaknya”
“Kampus sebelah lagi?”
“Iya, biar deh. Kamu kapan punya gebetan?”
“Nanti dah cari kampus sebelah juga”
“Hahaha, jangan deh. Kampus sebelah cowoknya brengsek-brengsek”
“Rumusnya semua cowok sama kale, kayak yang kamu lakuin juga toh”
“Iya, tapi kamu masih kecil. Jangan kayak gitu”
Selalu kau buat aku merasa kecil didepanmu. Jika kau sadari suatu hari
nanti, akulah wanita terbesar di kehidupanmu. Dan akulah yang terbaik. Hanya
aku yang mampu menerimamu apa adanya, hanya aku yang mampu memaklumi khilaf
berulangmu. Dan aku yang selalu menyombongkan kedekatanku denganmu kepada
diriku sendiri. Mainkan saja dulu, lempar dadu itu dan berjalanlah sesuka
aturmu. Lalu kau akan kembali padaku.

No comments:
Post a Comment