Hari ke 7:
Zeus Sang Pangeran III
Jika kau kira aku wanita lemah, itu tanpamu. Aku mampu melewati segalanya
dengan doa yang kau panjatkan untukku. Meski doa itu masih terkubur di dalam
anganmu. Elegi di pagi hari karenamu yang tersakiti. Kau mampu tersakiti?
Tidak, kau tidak akan mampu tersakiti. Karena aku disini, untuk meng-ada-kan
bahagia itu kepadamu. Menggulirkan setiap keluhmu agar tak keruh terlalu dalam.
Entah sebatas apa kau menyayangiku. Entah seberat apa kau pernah
merindukanku. Entah apa pernah kau lakukan itu kepadaku, bahkan sekedar
mengingat namaku dalam harimu. Kau sandarkan segenap rasa itu dimanapun aku tak
pernah tahu. Ringkihan hatiku terabaikanmu. Dan tak pernah kusalahkan itu. Kau
dan aku sejajar namun tak pernah berhadapan. Kau tau aku selalu disampingmu,
namun pernahkah kau coba sekedar memalingkan wajahmu dan mengamatiku? Sorotku
pun telah meneriakkan rasaku untukmu. Namun
kehampaan hatimu membuatnya hilang.
************************
Kau tahu saat apa wajahmu paling terlihat menyenangkan? Saat kau memegang
kendara. Mengendarai mobil mewahmu. Dan saat aku duduk disampingmu dapat
kulihat sorot mata dinginmu, menusuk jantungku hingga menembus semua serambi.
Tajam dan mati. Kau tampak seperti mayat hidup yang merias diri. Kau tampan,
dingin, dan hina. Kau tahu tidak ada satu wanitapun yang mampu menolak
pesonamu. Kau tahu dirimu indah, dan pantas mendapatkan wanita manapun yang kau
mau. Kau mainkan para hati wanita dengan kematianmu. Rasa di tubuhmu yang telah
mati selalu mejelma menjadi kasih yang semu dan sementara.
Kuingat suatu malam di sebuah kota, saat kita menyusuri jalan
mencapainya. Kau berada di kursi kemudi. Seperti biasa, kau lajukan mobil
dengan kecepatan penuh. Malam yang dingin menjadi kawanmu. Goresan angin yang
semakin kencang hanya menjadi pemicu untukmu agar lebih cepat membawa mobil
ini. Jalan yang mulai merasa kesepian kau temani dengan candaan kilat malam
itu. Sungguh betapapun rasa kantuk menyadarkan dirinya kepadaku, melihatmu
lebih menyenangkan daripada menggubrisnya.
Aku tahu kau lelah, mata merahmu meneriakkan keinginannya beristirahat
kepadaku. Namun egomu memaksanya bertahan, karena tujuan kita masih empat jam
lagi. Kesempatan saat memberi minum kepada mobil ini kau manfaatkan dengan
baik. Saat semua teman kita mencari minuman dan camilan untuk menemani perut
mereka, kau hanya bertahan didalam mobil untuk menuruti rengekan matamu.
Sungguh, aku tidak tahu harus berbuat apa. Hatiku menjerit melihat lelahmu.
Namun aku tak bisa melakukan apapun.
Yang paling menyiksa batinku adalah saat aku tahu kau membutuhkan bantuan
namun aku tak bisa melakukan apapun. Dengan rasa bimbang aku mendekatimu,
matamu sudah terpejam dengan nyenyaknya. Indah. Tampan. Mempesona. Bahkan saat
terlelap pun kau masih mampu menggenjot detak jantungku menuju klimaks.
Kuberanikan jari-jariku menyentuh pahamu dan menggoyang-goyangkannya sedikit.
Kau hanya membalas dengan gumaman. Kucoba bertanya kepadamu.
“Kamu pengen makan apa Ze?”
“Emhh.... nggak...”
Tak sanggup lagi aku bertanya. Aku mengerti bagaimana lelahmu dan inginmu
memejamkan mata lebih besar daripada mencicip setetes embun maupun camilan. Aku
masih mematung di dalam mobil, memandangmu dengan sempurna. Tuhan mengizinkanku
menikmatimu malam ini. Menghabiskan malamku untuk memandangmu. Aku tak peduli meski waktu akan mengusirku.
Saat ini adalah saat yang haru bagiku. Aku memelukmu dengan erat, sangat erat,
ya! Kupeluk bayangmu sangat erat.
Kau tahu aku mencintaimu? Bahkan terlalu lama menatap matamu akan
membunuhku. Kita biasa, kita saudara. Namun jauh dibalik pengakuan itu, aku
milikmu. Sepenuhnya. Jika Tuhan mengizinkanku memelukmu, aku ingin memelukmu
diatas bukit bintang itu, lalu menyombongkan ketampananmu pada bintang-bintang
malam. Kujadikan kau topik utama dalam perbincangan mereka. Kelompok bintang
malam.
Meski malam adalah kawan dekatmu, aku tidak peduli. Biar saja dia mengadu
kepadamu atas apa yang dikatakan para bintang. Biar kau tahu semua! Biar kau
sadar! Betapa ketampananmu melemahkanku! Betapa kebejatanmu telah mematikan
hatiku! Aku telah terbiasa dengan kelakuanmu yang seharusnya menyakitiku. Aku
telah menerima semuanya dengan kecintaan hati, kecintaan hatiku padamu. Bodoh?
Memang! Tidak ada hal bodoh yang tidak aku lakukan ketika mencintaimu. Termasuk
menerima segala kebejatanmu!
Semoga kau di neraka. Neraka, tempat para wanita pemujamu menunggumu.
Sembari menjilat diri mereka sendiri, mendesahkan namamu, mengundangmu
bergabung bersama. Bermain bersama. Dengan balutan api neraka yang akan
menambah gairah kalian menjadi lebih
bermakna. Perlahan, perhatikan. Semua gadis itu memang benar-benar jatuh
untukmu. Berusaha mendapatkan pandangan matamu, saling menyaingi, saling
menyingkirkan, saling menyakiti. Hanya untukmu.
Kuharap Tuhan mengizinkanku menjamahmu malam ini meski dalam imajinasi.
Kecup bibirku dengan seluruh gairahmu. Bisikkan padaku kata cinta itu. Raih
diriku, tenggelamkan dalam pelukkanmu. Lumat saja tubuhku. Pejamkan matamu, dan
nikmati semua ini berlalu. Rasakan degup jantungku saat lidah kita bersahutan
saling mengadu. Biarkan hangat yang menjalar ini melelehkan kesombongan
ketampananmu.

No comments:
Post a Comment