Monday, January 14, 2013

ZEUS SANG PANGERAN III

Hari ke 7:  
Zeus Sang Pangeran III



Jika kau kira aku wanita lemah, itu tanpamu. Aku mampu melewati segalanya dengan doa yang kau panjatkan untukku. Meski doa itu masih terkubur di dalam anganmu. Elegi di pagi hari karenamu yang tersakiti. Kau mampu tersakiti? Tidak, kau tidak akan mampu tersakiti. Karena aku disini, untuk meng-ada-kan bahagia itu kepadamu. Menggulirkan setiap keluhmu agar tak keruh terlalu dalam.
Entah sebatas apa kau menyayangiku. Entah seberat apa kau pernah merindukanku. Entah apa pernah kau lakukan itu kepadaku, bahkan sekedar mengingat namaku dalam harimu. Kau sandarkan segenap rasa itu dimanapun aku tak pernah tahu. Ringkihan hatiku terabaikanmu. Dan tak pernah kusalahkan itu. Kau dan aku sejajar namun tak pernah berhadapan. Kau tau aku selalu disampingmu, namun pernahkah kau coba sekedar memalingkan wajahmu dan mengamatiku? Sorotku pun  telah meneriakkan rasaku untukmu. Namun kehampaan hatimu membuatnya hilang.
************************
Kau tahu saat apa wajahmu paling terlihat menyenangkan? Saat kau memegang kendara. Mengendarai mobil mewahmu. Dan saat aku duduk disampingmu dapat kulihat sorot mata dinginmu, menusuk jantungku hingga menembus semua serambi. Tajam dan mati. Kau tampak seperti mayat hidup yang merias diri. Kau tampan, dingin, dan hina. Kau tahu tidak ada satu wanitapun yang mampu menolak pesonamu. Kau tahu dirimu indah, dan pantas mendapatkan wanita manapun yang kau mau. Kau mainkan para hati wanita dengan kematianmu. Rasa di tubuhmu yang telah mati selalu mejelma menjadi kasih yang semu dan sementara.
Kuingat suatu malam di sebuah kota, saat kita menyusuri jalan mencapainya. Kau berada di kursi kemudi. Seperti biasa, kau lajukan mobil dengan kecepatan penuh. Malam yang dingin menjadi kawanmu. Goresan angin yang semakin kencang hanya menjadi pemicu untukmu agar lebih cepat membawa mobil ini. Jalan yang mulai merasa kesepian kau temani dengan candaan kilat malam itu. Sungguh betapapun rasa kantuk menyadarkan dirinya kepadaku, melihatmu lebih menyenangkan daripada menggubrisnya.
Aku tahu kau lelah, mata merahmu meneriakkan keinginannya beristirahat kepadaku. Namun egomu memaksanya bertahan, karena tujuan kita masih empat jam lagi. Kesempatan saat memberi minum kepada mobil ini kau manfaatkan dengan baik. Saat semua teman kita mencari minuman dan camilan untuk menemani perut mereka, kau hanya bertahan didalam mobil untuk menuruti rengekan matamu. Sungguh, aku tidak tahu harus berbuat apa. Hatiku menjerit melihat lelahmu. Namun aku tak bisa melakukan apapun.
Yang paling menyiksa batinku adalah saat aku tahu kau membutuhkan bantuan namun aku tak bisa melakukan apapun. Dengan rasa bimbang aku mendekatimu, matamu sudah terpejam dengan nyenyaknya. Indah. Tampan. Mempesona. Bahkan saat terlelap pun kau masih mampu menggenjot detak jantungku menuju klimaks. Kuberanikan jari-jariku menyentuh pahamu dan menggoyang-goyangkannya sedikit. Kau hanya membalas dengan gumaman. Kucoba bertanya kepadamu.
“Kamu pengen makan apa Ze?”
“Emhh.... nggak...”
Tak sanggup lagi aku bertanya. Aku mengerti bagaimana lelahmu dan inginmu memejamkan mata lebih besar daripada mencicip setetes embun maupun camilan. Aku masih mematung di dalam mobil, memandangmu dengan sempurna. Tuhan mengizinkanku menikmatimu malam ini. Menghabiskan malamku untuk memandangmu.  Aku tak peduli meski waktu akan mengusirku. Saat ini adalah saat yang haru bagiku. Aku memelukmu dengan erat, sangat erat, ya! Kupeluk bayangmu sangat erat.
Kau tahu aku mencintaimu? Bahkan terlalu lama menatap matamu akan membunuhku. Kita biasa, kita saudara. Namun jauh dibalik pengakuan itu, aku milikmu. Sepenuhnya. Jika Tuhan mengizinkanku memelukmu, aku ingin memelukmu diatas bukit bintang itu, lalu menyombongkan ketampananmu pada bintang-bintang malam. Kujadikan kau topik utama dalam perbincangan mereka. Kelompok bintang malam.
Meski malam adalah kawan dekatmu, aku tidak peduli. Biar saja dia mengadu kepadamu atas apa yang dikatakan para bintang. Biar kau tahu semua! Biar kau sadar! Betapa ketampananmu melemahkanku! Betapa kebejatanmu telah mematikan hatiku! Aku telah terbiasa dengan kelakuanmu yang seharusnya menyakitiku. Aku telah menerima semuanya dengan kecintaan hati, kecintaan hatiku padamu. Bodoh? Memang! Tidak ada hal bodoh yang tidak aku lakukan ketika mencintaimu. Termasuk menerima segala kebejatanmu!
Semoga kau di neraka. Neraka, tempat para wanita pemujamu menunggumu. Sembari menjilat diri mereka sendiri, mendesahkan namamu, mengundangmu bergabung bersama. Bermain bersama. Dengan balutan api neraka yang akan menambah gairah kalian  menjadi lebih bermakna. Perlahan, perhatikan. Semua gadis itu memang benar-benar jatuh untukmu. Berusaha mendapatkan pandangan matamu, saling menyaingi, saling menyingkirkan, saling menyakiti. Hanya untukmu.
Kuharap Tuhan mengizinkanku menjamahmu malam ini meski dalam imajinasi. Kecup bibirku dengan seluruh gairahmu. Bisikkan padaku kata cinta itu. Raih diriku, tenggelamkan dalam pelukkanmu. Lumat saja tubuhku. Pejamkan matamu, dan nikmati semua ini berlalu. Rasakan degup jantungku saat lidah kita bersahutan saling mengadu. Biarkan hangat yang menjalar ini melelehkan kesombongan ketampananmu.

No comments:

Post a Comment