Thursday, January 17, 2013

Hari Ke 8: Sakit pun ada Sehatnya


Sebelum detik ini kukira aku akan menceritakan tentang kemurnian cinta, kekekalan cinta, keabadian cinta. Namun setelah detik ini aku menyadari bahwasanya cintaku dengannya tidak murni, tidak kekal dan tidak abadi. Karena cinta yang kurasakan adalah kepakan sebelah sayap. Karena cinta yang kurasakan  adalah jarak yang kupaksakan. Karena aku meragukan ini adalah cinta.
Ya, setiap pasangan. Seperti kau, dia dan mereka. Pasti pernah merasakan bagaimana bara cinta membakar hati kalian hingga tak mampu  lagi kau lihat sekitar. Hingga tak mampu lagi kau jamah  kerabat dan teman. Segala nya terasa indah dan lengkap cukup dengan menatapnya seharian. Begitu menjadi candu, begitu menghantui pikir dan hatimu.
Seperti perlahan membangun singgasana di hati kalian, lalu menyingkirkan orang lain selainnya agar dapat memperoleh  kenikmatan.
Hingga akhirnya semua perlahan menghilang. Kau pun tak tahu mengapa semua terjadi. Kau seakan  tersadar akan mabuk yang panjang. Kau raba sekitarmu dan mendapati sepi.
            Semua telah menghilang bersama terbangun megahnya singgasana cintamu. Namun kini raja yang kau banggakan bahkan telah meninggalkanmu.
Membuaimu dengan janji yang telah diingkari. Lalu apalagi? Kau menyesali? Ya, penyesalan perlahan menggerogoti.
Tangismu, sedihmu, dan kematian  masa mu akan memperkuatnya. Dan kebangkitanmu hanya akan melemahkannya. Kau dan beribu lukamu, berlarilah! Jangan lagi kau kembali padanya. Bahkan sekedar di dalam ingatan. Jangan lagi berusaha melupakannya karena itu berarti kau harus mengingatnya dulu baru kau menanamkan kepada otakmu agar melupakannya. Sama saja seperti kau ingin mengobati luka di tubuhmu. Kau harus berusaha mencari luka itu, melihatnya berada dimana, mencari obat untuknya, menyentuhnya untuk menyembuhkannya. Kau selalu bersentuhan dengan apapun yang ingin kau lakukan, jadi jangan dilupakan. Cukup biarkan berlalu.
Biarlah ia mendapat ganjarannya dan kau mendapatkan kebahagiaanmu.
Kau tidak perlu menghilangkan rasa sakitmu, agar di masa mendatang kau mampu merasakan bagaimana disakiti. Agar kau tidak jatuh di lubang yang sama. Agar kau tidak sakit dengan cara yang sama. Setidaknya kau akan mampu mempelajari mengenai kesedihan. Apalah arti kebahagiaan tanpa kesedihan disampingnya? Dari kesedihan, rasa syukur itu timbul. Dari kebehagiaan, pengabaian itu muncul.
Ya, dari segala kesakitan ini aku mampu belajar sesuatu. Tuhan Menyayangiku. Tuhan pasti sedang memberikan porsi sakitku sekarang. Agar esok aku tak lagi merasakannya. Agar esok adalah menjadi saat-saat bahagia yang tiada tara bagiku. Tuhan Maha Baik. aku hanya perlu mempercayai itu dengan kadar sebesar-besarnya.

Monday, January 14, 2013

ZEUS SANG PANGERAN III

Hari ke 7:  
Zeus Sang Pangeran III



Jika kau kira aku wanita lemah, itu tanpamu. Aku mampu melewati segalanya dengan doa yang kau panjatkan untukku. Meski doa itu masih terkubur di dalam anganmu. Elegi di pagi hari karenamu yang tersakiti. Kau mampu tersakiti? Tidak, kau tidak akan mampu tersakiti. Karena aku disini, untuk meng-ada-kan bahagia itu kepadamu. Menggulirkan setiap keluhmu agar tak keruh terlalu dalam.
Entah sebatas apa kau menyayangiku. Entah seberat apa kau pernah merindukanku. Entah apa pernah kau lakukan itu kepadaku, bahkan sekedar mengingat namaku dalam harimu. Kau sandarkan segenap rasa itu dimanapun aku tak pernah tahu. Ringkihan hatiku terabaikanmu. Dan tak pernah kusalahkan itu. Kau dan aku sejajar namun tak pernah berhadapan. Kau tau aku selalu disampingmu, namun pernahkah kau coba sekedar memalingkan wajahmu dan mengamatiku? Sorotku pun  telah meneriakkan rasaku untukmu. Namun kehampaan hatimu membuatnya hilang.
************************
Kau tahu saat apa wajahmu paling terlihat menyenangkan? Saat kau memegang kendara. Mengendarai mobil mewahmu. Dan saat aku duduk disampingmu dapat kulihat sorot mata dinginmu, menusuk jantungku hingga menembus semua serambi. Tajam dan mati. Kau tampak seperti mayat hidup yang merias diri. Kau tampan, dingin, dan hina. Kau tahu tidak ada satu wanitapun yang mampu menolak pesonamu. Kau tahu dirimu indah, dan pantas mendapatkan wanita manapun yang kau mau. Kau mainkan para hati wanita dengan kematianmu. Rasa di tubuhmu yang telah mati selalu mejelma menjadi kasih yang semu dan sementara.
Kuingat suatu malam di sebuah kota, saat kita menyusuri jalan mencapainya. Kau berada di kursi kemudi. Seperti biasa, kau lajukan mobil dengan kecepatan penuh. Malam yang dingin menjadi kawanmu. Goresan angin yang semakin kencang hanya menjadi pemicu untukmu agar lebih cepat membawa mobil ini. Jalan yang mulai merasa kesepian kau temani dengan candaan kilat malam itu. Sungguh betapapun rasa kantuk menyadarkan dirinya kepadaku, melihatmu lebih menyenangkan daripada menggubrisnya.
Aku tahu kau lelah, mata merahmu meneriakkan keinginannya beristirahat kepadaku. Namun egomu memaksanya bertahan, karena tujuan kita masih empat jam lagi. Kesempatan saat memberi minum kepada mobil ini kau manfaatkan dengan baik. Saat semua teman kita mencari minuman dan camilan untuk menemani perut mereka, kau hanya bertahan didalam mobil untuk menuruti rengekan matamu. Sungguh, aku tidak tahu harus berbuat apa. Hatiku menjerit melihat lelahmu. Namun aku tak bisa melakukan apapun.
Yang paling menyiksa batinku adalah saat aku tahu kau membutuhkan bantuan namun aku tak bisa melakukan apapun. Dengan rasa bimbang aku mendekatimu, matamu sudah terpejam dengan nyenyaknya. Indah. Tampan. Mempesona. Bahkan saat terlelap pun kau masih mampu menggenjot detak jantungku menuju klimaks. Kuberanikan jari-jariku menyentuh pahamu dan menggoyang-goyangkannya sedikit. Kau hanya membalas dengan gumaman. Kucoba bertanya kepadamu.
“Kamu pengen makan apa Ze?”
“Emhh.... nggak...”
Tak sanggup lagi aku bertanya. Aku mengerti bagaimana lelahmu dan inginmu memejamkan mata lebih besar daripada mencicip setetes embun maupun camilan. Aku masih mematung di dalam mobil, memandangmu dengan sempurna. Tuhan mengizinkanku menikmatimu malam ini. Menghabiskan malamku untuk memandangmu.  Aku tak peduli meski waktu akan mengusirku. Saat ini adalah saat yang haru bagiku. Aku memelukmu dengan erat, sangat erat, ya! Kupeluk bayangmu sangat erat.
Kau tahu aku mencintaimu? Bahkan terlalu lama menatap matamu akan membunuhku. Kita biasa, kita saudara. Namun jauh dibalik pengakuan itu, aku milikmu. Sepenuhnya. Jika Tuhan mengizinkanku memelukmu, aku ingin memelukmu diatas bukit bintang itu, lalu menyombongkan ketampananmu pada bintang-bintang malam. Kujadikan kau topik utama dalam perbincangan mereka. Kelompok bintang malam.
Meski malam adalah kawan dekatmu, aku tidak peduli. Biar saja dia mengadu kepadamu atas apa yang dikatakan para bintang. Biar kau tahu semua! Biar kau sadar! Betapa ketampananmu melemahkanku! Betapa kebejatanmu telah mematikan hatiku! Aku telah terbiasa dengan kelakuanmu yang seharusnya menyakitiku. Aku telah menerima semuanya dengan kecintaan hati, kecintaan hatiku padamu. Bodoh? Memang! Tidak ada hal bodoh yang tidak aku lakukan ketika mencintaimu. Termasuk menerima segala kebejatanmu!
Semoga kau di neraka. Neraka, tempat para wanita pemujamu menunggumu. Sembari menjilat diri mereka sendiri, mendesahkan namamu, mengundangmu bergabung bersama. Bermain bersama. Dengan balutan api neraka yang akan menambah gairah kalian  menjadi lebih bermakna. Perlahan, perhatikan. Semua gadis itu memang benar-benar jatuh untukmu. Berusaha mendapatkan pandangan matamu, saling menyaingi, saling menyingkirkan, saling menyakiti. Hanya untukmu.
Kuharap Tuhan mengizinkanku menjamahmu malam ini meski dalam imajinasi. Kecup bibirku dengan seluruh gairahmu. Bisikkan padaku kata cinta itu. Raih diriku, tenggelamkan dalam pelukkanmu. Lumat saja tubuhku. Pejamkan matamu, dan nikmati semua ini berlalu. Rasakan degup jantungku saat lidah kita bersahutan saling mengadu. Biarkan hangat yang menjalar ini melelehkan kesombongan ketampananmu.

Sunday, January 13, 2013

Zeus Sang Pangeran II


 Hari ke 6: 
Zeus Sang Pangeran II
"Mainkan saja dulu, lempar dadu itu dan berjalanlah sesuka aturmu. Lalu kau akan kembali padaku."
                                                                    "sayatan hitam"

Kau ingat saat itu? Aku pernah datang ke kediamanmu, ya tempatmu berdiam-diam mendesahkan kenikmatan. Dengan langkah cepat aku menujumu. Sejengkal lagi pintu rumahmu. Mengayunkan gemetar tanganku untuk mengetuk pintu itu. Tok, tok... tanganku terayun gontai dan terlihat ayu. Tidak perlu lama aku berjejak di depan pintumu, kau membuka batas itu. Dengan melebarkan basah bibirmu, kau menganjurkanku memasuki singgasanamu. Seperti biasa aku masuk dan memeluk bayanganmu di belakang.
Ruang-ruang yang masih sama. Ruang televisi masih menjadi favoritku, meskipun disini juga merupakan wadah kehancuranku. Benar saja, baru juga waktu bergulir memintaku melihatmu membukakan pintu untuk gadis lain milikmu hari ini. Tangannya mulai menggelayutimu. Manja. Dan pandangan aneh ke arahku pun sudah menjadi kebiasaan. Kau sebut aku dengan adik sepupu, dan menggandengnya melewatiku. Lagi-lagi kamar panas itu terisi. Sengaja kau eratkan pasangan pintu itu agar aku tak ikut bernafsu. Apa? Kau tak ingin mengulitiku juga?
Perlahan desahan bergema di telingaku, tingginya jeritan televisi tak mampu meredamnya. Panas yang menjalar di tubuhku mengumpulkan air di sudut mataku. Lagi dan lagi. Desahannya, desahanmu, jeritanku. Kucoba mendesahkan namamu, namun kenyataan menghantamku. Namamu masih didesahkan bibir gadis itu. Kucoba mengunci kelopak mataku, seolah berada di bioskop aku mampu melihatnya menunggangimu, mencengkrammu, membasuh tubuhmu dengan nafsu. Argh! Nikmatilah sayang.
Jarum panjang itu sudah berjalan seratus delapan puluh derajat, meletakkan tubuhnya di angka enam. Setengah jam berlalu dengan genangan air mata masih tertimbun di kelopak mata. Bagaimanapun masih kusimpan rasa sakit itu. Gesek pintu yang terbuka mendecit lirih, mencubit lamunanku. Mengembalikanku ke realita. Menggeser arah wajahku kepada kalian. Kau dan dia masih mencoba untuk saling membenarkan pakaian. Saling melempar senyum. Saling mengusap kepala. Kulihat warnamu melemparkan kepuasan melalui pandangan.
Kau melihat kearahku, tersenyum. Perih ini kusadari, namun tak mampu kutepis.
“ Kamu sudah makan?”
“Belum lapar kok”
“Aku mau anter dia dulu, kamu disini aja. Aku belikan makan nanti”
Kau melenggang dengan sempurna disampingnya. Meninggalkan tetes airmataku yang mulai menjadi alur. Begitu mudah kau pergi, begitu mudah aku menjeritkan namamu. Suara serpihan daun yang tersapu ban mobilmu membisikkanku akan kepergianmu. Dan kesakitan ini telah menjadi sebotol air mata dipangkuanku. Tak ada kata, tak ada suara. Cukup air mata yang menggenggamku setelah segala pikirku tertusuk luka atas sebuah nafsu.
Waktu menegurku, satu jam telah berlalu. Tapi rasa ingin menghentikan tetes airmataku masih belum juga terbesit. Kukatupkan mataku yang mulai terasa berat, sepertinya telah membengkak. Sepertinya, ya sepertinya. Lagi-lagi kudengar serpihan daun didepan rumah menarik hatiku dan berbisik bahwa kau telah kembali. Segera kupaksa kakiku melangkah cepat ke kamar mandi. Memutar keran air di wastafel. Menadahkan kedua tanganku dibawahnya, lalu menampung setiap buih yang turun. Kuangkat kedua tanganku perlahan dan menurunkan wajahku, telapak tanganku mulai melempar setiap buih kesegaran untuk mengusap pori-pori wajahku.
Sedikit lebih baik, keberuntungan menghinggapiku kali ini. Aku berjalan ke ruang tivi. Disana, kau telah menyinggahkan tubuhmu pada sofa sembari menyilangkan kedua kakimu . Kaos distro selalu terlihat pas di tubuhmu, memperlihatkan setiap lekukan milikmu. Dadamu yang bidang  melirikku.  Mengajakku bercengkrama dalam diam. Kematian mendekatiku, aku tidak tahan dengan bahagia dan sakit ini. Kau indah dalam balutan apapun.
“Sudah aku belikan Nasi Goreng”
“Nanti saja”
“Makan dulu lah, kalo dingin nanti nggak enak”
“Oke deh kalo gitu”
Kuraih bungkusan yang tergeletak di atas meja, kulahap diatas meja makan. Setelah selesai, aku kembali dan mengambil tempat disampingmu. Tidak pernah terlewatkan, klimaks denyut nadiku selalu terjadi di dekatmu. Cangkir rinduku telah membasahi rasa terdalam. Namun matamu masih lurus menatap televisi. Pandangan yang selalu berbeda. Kosong, dingin. Berbeda, atau “mungkin berbeda”? Mungkin.
“Udah makannya?”  kau palingkan tubuhmu kepadaku, memanah mataku dengan pandangan erotismu.
“Udah kok, Fredy mana?”
“Bentar lagi juga dateng. Tadi sih bilangnya ada gebetan baru haha”
“Anak mana emang?”
“Kampus sebelah kayaknya”
“Kampus sebelah lagi?”
“Iya, biar deh. Kamu kapan punya gebetan?”
“Nanti dah cari kampus sebelah juga”
“Hahaha, jangan deh. Kampus sebelah cowoknya brengsek-brengsek”
“Rumusnya semua cowok sama kale, kayak yang kamu lakuin juga toh”
“Iya, tapi kamu masih kecil. Jangan kayak gitu” 
Selalu kau buat aku merasa kecil didepanmu. Jika kau sadari suatu hari nanti, akulah wanita terbesar di kehidupanmu. Dan akulah yang terbaik. Hanya aku yang mampu menerimamu apa adanya, hanya aku yang mampu memaklumi khilaf berulangmu. Dan aku yang selalu menyombongkan kedekatanku denganmu kepada diriku sendiri. Mainkan saja dulu, lempar dadu itu dan berjalanlah sesuka aturmu. Lalu kau akan kembali padaku.

Friday, January 11, 2013

Zeus Sang Pangeran I


Hari ke5:
Zeus Sang Pangeran I
“Mencintai adalah kesediaan hati tersakiti, karena logika tak lagi berarti”
                                                -sayatan hitam-



 Kukira kau adalah lelaki terbaik dalam hidupku yang pantas untuk kupuja dan kukagumi, ternyata kau hanya laki-laki biasa, yang terlihat berbeda karena keinginanku sendiri untuk melihatmu secara berbeda, atas semua hal biasa yang kau lakukan. Bukan salahku aku mencintaimu, bukan pula salahmu jika tak dapat membalas rasaku. Waktu yang mempertemukan pertemuan kita, atas janji yang dibuatnya dengan takdir. Aku mencintaimu dalam batas diam, kuharap kau sadari adanya. Aku tak mungkin mengungkapkan besarnya perasaanku jika nantinya itu hanya akan menjauhkanku darimu. Kau sahabatku, kau menganggapku saudara. Begitupula aku, aku menganggapmu saudaraku, ya... saudaraku yang akan tinggal satu rumah denganku untuk menghabiskan sisa waktu kita dengan berbagi suka dan duka.
Asa yang kubangun merobohkan jiwaku saat ini. Seandainya kau tahu bahwa aku mengetahui tentang apa yang tidak pernah kau rahasiakan untukku, yang menyiksa batinku, tentang kebiasaan bejatmu bertarung dengan setiap gadis, diatas ranjang lusuhmu. Aku mengerti dan menerimanya dengan kesakitan hati, dengan air mata di pipi yang membanjiri tak hanya ragaku! Tapi juga hati dan jiwaku. Begitu mudah aku jatuh cinta kepadamu, begitu mudah pula aku berharap suatu saat kau kan berubah. Begitu mudah aku menerima segala kesakitan ini, menyaksikan diriku digerogoti oleh keinginanku sendiri.
Berawal dari ketidaksengajaan yang direkayasa takdir kita bertemu, dalam sebuah kelompok kecil di sebuah acara. Berawal dari menatap mata coklatmu, aku berdiri dan memuja dewa matahari. Begitu indah dua bola mata didepanku, diterpa cahaya dan memantulkan warna coklat muda yang mencolok. Aku cinta coklat. Sungguh betapapun kubenci cinta pada saat itu, rasa dihatiku yang mengorasikan namamu tak dapat kumunafikkan. Aku merasakan getaran itu lagi, dan lebih hebat dari yang sebelumnya. Kukira hatiku sudah mati akan rasa ini, ternyata Tuhan masih berkenan menyapaku untuk menikmati anugerah-Nya. Kau menerobos logikaku dan menjatuhkanku dengan telak.
Aku menatapmu dengan senyum yang kau tebar murah pada saat itu. Berkenalan dan kau mendekatiku. Rasa hangat dan nyaman yang menjalar di tubuhku menenggelamkanku pada kebutaan untuk mengenalimu. Aku memujamu dalam satu waktu, dan berjanji tak akan menyesalinya. Kuputuskan tanpa menimbangnya. Kau menjadi tujuan baru hidupku dan mulai hidup didalam khayalanku. Kau tata rambutmu sedemikian rupa hingga menyerupai milik burung nuri, berjambul kedepan. Kau tampakkan garis wajahmu yang tegas seolah kau menyatakan kepada semua wanita bahwa kau adalah lelaki sejati. Kau tarik semua wanita pada hatimu. Pesonamu layak firaun yang menjelma cleopatra.
Detik yang berdetak meninggalkan masa lalu membuat kita kembali kepada kehidupan awal tempat dimana seharusnya kita berada. Acara itu telah selesai. Tapi hatiku masih juga belum puas menyimpan potret kita. Beberapa kawan yang kita miliki bersama, mengajak kita mengucapkan sumpah untuk menjadi saudara. Tak mungkin aku menolak, aku tahu kau takkan pernah kumiliki. Setidaknya kita akan lebih dekat ketika kita simbol persaudaraan melekat di dada kita. Dengan marga baru kita bersama kawan-kawan, yang disepakati tanpa pemukulan palu sidang.
Kukira aku mampu melihatmu menggandeng wanita lain, memeluk, mencumbu, menikmati tubuh mereka satu persatu dengan permainan setan kalian. Aku kira kau akan bisa melihat keberadaan hatiku yang setiap hari memotret wajahmu. Dalam hening aku menyimpan rasa yang hampir membuatku mati. Dan aku juga yang menguatkannya untuk bertahan. Perdebatan logika, hati, dan komitmen pada diriku sendiri untukmu. Dan kau hanya melihatku seperti bocah yang lugu. Dengan segenap tindakanku, kusampaikan padamu bahwa aku sanggup menjadi bonekamu -dan jangan pernah tinggalkan aku-.
Semakin merambatnya sang waktu, kau semakin menarikku dalam pesonamu. Tunggu, kau kah yang menarikku? Atau hanya aku yang menarik diriku sendiri kepadamu? Memaksakan diriku agar pantas berjalan disampingmu? Seperti layang-layang di angkasa, aku terbang ketika kau menyentuhku, namun kau hanya menyentuhku lewat benang panjang itu. Benang panjang yang takkan kutemukan ujungnya agar bisa menyentuh ragamu. Hubungan rekayasa antara kita. Entah kau memahami atau tidak setelah begitu lamanya waktu menerangi jalan kita.
Entah mengapa, yang kurasakan kau begitu menjagaku. Dalam jauhmu, kau masih menjagaku. Menitikkan sebutir doa untuk kebaikkanku, dan selalu ada ketika aku memanggil namamu. Kau tahu aku wanita terhebat yang menyayangimu? Aku tidak pernah berkeras hati memaksamu meninggalkan selir-selir hatimu. Aku juga yang mendengarkan setiap detail ceritamu dengan mereka. Demi apapun aku tak pernah sanggup mendengarkan isi hatimu untuk wanita lain, namun aku hanya peran pembantu dalam hidupmu. Pengamat ceritamu dan pemberi nasihat. Meski ternyata alur cerita itu sedikit kurubah untukmu karena dalam sajak lain kuceritakan tentang perasaanku padamu.