Hari Ke 3: Bapak Radmad, Kesendirian Tak Berujung
Sore ini aku berjalan menyusuri buih hujan yang mulai membasahiku untuk
membeli makanan di dekat tempat tinggalku. Saat sampai di sebuah warung
sederhana itu, seperti biasa kupesan satu porsi makanan yang akan kumakan di
rumah. Sembari menunggu, anak dari sang penjual menemaniku di depan warung.
Tidak lama, lewatlah seorang bapak tua, melihat dari kerut diwajahnya
kuperkirakan ia berumur sekitar empat puluh tujuhan. Namun fisiknya masih
terlihat kuat. Ia membawa jaring kecil (jaring itu mirip dengan jaring
penangkap kupu-kupu yang kugunakan saat aku masih kecil, namun yang dibawa oleh
bapak ini sedikit lebih lebar, diameternya mungkin sekitar lima puluh centimeter dan ada sebuah kayu
panjang di mulut lingkaran itu yang menjadi pegangan untuk membawanya) itu
dengan memanggul pegangan jaring di pundaknya, sedangkan jaring yang berada
dibelakang tubuhnya itu telah dimasuki oleh sebuah ember berukuran sedang.
ember berwarna biru yang lusuh itu terlihat mengkilap ditetesi air hujan di
dalam jaring.
Sembari melewati kami, bapak itu menoleh dan melemparkan senyum lebarnya.
Tubuhnya yang dipenuhi dengan otot-otot yang terlihat tegas dan kulitnya yang
hitam telah basah kuyup oleh air hujan yang memang sedang deras saat itu. Ia
tidak menggunakan alas kaki. Kaosnya berwarna biru tua dan ia memakai celana
kain pendek berwarna hitam. Ia berbelok di depan kami, namun menemukan pintu
gerbang rumah orang tersebut tertutup, padahal rumah orang tersebut menurut
pengakuan penjaga warung adalah salah satu aksesnya untuk turun ke sungai
belakang rumah agar ia bisa mencari ikan. Ia berbalik arah ke arah kami dan
melewati kami sembari kembali tersenyum lebar. “Monggo...” sapanya ramah. Kami
pun tersenyum dan menjawab dengan kata yang sama.
Anak dari penjaga warung itu bercerita kepadaku dan ibunya, kemarin
sepupunya yang bernama Rina menyelamatkan bapak tersebut dari terjangan arus
sungai yang hampir merenggut nyawanya. Tak dapat kusembunyikan wajah kagetku.
Memang benar, bapak itu terlihat seperti akan mencari ikan. Ia membawa jaring.
Namun, baru saja kemarin ia akan kehilangan nyawa. Mengapa hari ini ia rela
kembali bergelut dengan arus demi mendapatkan ikan? Hanya ikan! Rasa penasaran
mulai menyelimutiku. Sepenting apakah arti ikan, jika harus dibandingkan dengan
nyawa? Mengapa bapak tersebut rela kembali ke sungai? Hari ini hujan deras,
tentunya arus sungai juga akan sangat deras, dan dapat melahapnya kapan saja.
Apa mungkin ikan ikan itu akan menjadi satu-satunya lauk yang menemaninya saat
lapar melanda?
Pertanyaan-pertanyaan berkecamuk di pikiranku. Saling bertindih, saling
bertanya. Sungguh gigih perjuangan bapak tersebut. Apapun alasannya, aku yakin
bahwa hal ini sangat penting untuk melanjutkan hidupnya. Akhirnya karena rasa
penasaranku yang begitu besar kuputuskan untuk mengikutinya, karena aku tahu
tidak jauh dari sini, ada jalan menuju sungai.
Kutinggalkan warung dan mulai menyusuri jalan ke sungai. Saat hampir
sampai, kulihat jalan ini memecah menjadi dua. Kupilih jalan yang sebelah kiri.
Kulihat, cukup tinggi dari dinding sungai ke dalam sungai. Tidak mungkin jika
harus meloncat. Kutengok ke kanan dan ke kiri. Di sebelah kiri ada jalan kecil
menuju dasar sungai, tapi itu berarti aku harus melompat ke daratan di seberang
dan jaraknya satu meter. Aku tidak yakin mampu meloncatinya. Sedangkan jika
tidak ingin melompat aku harus berjalan dibawah saluran air kamar mandi sebuah
rumah yang tentunya nanti tubuhku akan beraroma kotoran manusia. Tidak ada
pilihan lain, aku harus berjalan dibawah pipa saluran tersebut yang menuju ke
arah sungai. Aku berjalan dan berhasil melewatinya. Namun aku masih belum
menemukan keberadaan bapak itu. Masih ada jalan sekitar tiga meter didepanku,
namun jalan untuk menuju kesana sangatlah curam. Aku hanya bisa berdoa kepada
Allah SWT agar menunjukkanku dimana bapak tersebut berada.
Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku dimana bapak tersebut berada. Aku ingin
melihatnya, aku ingin memberikannya beberapa titipan darimu. Ah! Kenapa harus
aku yang menjadi perantaraMu Ya Allah? Tersiksa sekali batin ini melihat bapak
itu tadi.
Kutengok sekali lagi ke kiri, arus. Kutengok ke kanan, ada bapak tersebut
sedang berjalan di dalam sungai sambil membelakangiku. Alhamdulillah!!! Kuambil
langkah cepat. Aku kembali melewati bawah pipa dan berjalan terseok keatas
untuk kembali ke jalan bercabang tadi dan memilih jalandi sebelah kanan. Setelah sampai, aku melewati
sebuah rumah dan disebelah nya ada tanah kosong yang telah ditumbuhi oleh
rerumputan liar. Aku berjalan melewatinya menyusuri tanaman-tanaman liar
tersebut, tibalah aku di atas sungai. Untuk mencapai sungai aku harus turun
namun melihat medan yang tidak memungkinkan aku hanya berdiri diatas gundukan
tanah ini.
Bapak itu menyadari kehadiranku.
“Loh neng, kok disini? Hujan loh neng”
“Iya Pak, ndakpapa... aku pengen lihat aja, Bapak lagi ngapain?”
“Ya ini neng, Bapak nangkep ikan kecil-kecil”
“Buat apa Pak?”
“Buat Peyek neng”
“Bapak turunnya darimana?”
“Ya lewat situ neng, jangan turun neng... licin”
“Iya pak”
Kemudian bapak tersebut melanjutkan kegiatannya mencari ikan. Ia
menyusuri pinggir sungai yang deras, mondar-mandir sambil mengayunkan jaring
dan membenamkannya kedalam sungai lalu mengangkatnya. Beberapa kali ia
mendapatkan ikan dan sebelum memasukkannya ke dalam ember, ia menunjukkan
ikannya kepadaku.
“Ini loh neng, ikan kecil-kecil”
“Oh iya Pak”
Terlihat jelas bagaimana bapak ini bekerja keras mendapatkan ikan.
Tubuhnya yang kekar dan rambutnya yang mulai banyak yang putih sungguh kontras.
Namun, pemandangan dibawah sana sungguh mampu membuatku tercengang. Bapak ini
mencari ikan, disaat arus sungai deras, mengabaikan resiko yang mampu merenggut
nyawanya, ia tetap mampu tersenyum lebar kepadaku. Kakinya seakan menancap
kebawah lumpur sungai. Ia melenggok cepat meraba keberadaan ikan.
Ia lalu memasukkan ikan-ikan tersebut kedalam ember. Lalu beberapa lama kemudian dia merapikan
jaring dan memasukkannya kedalam ember. Ia pun menoleh kepadaku dan mulai
memanjat dinding tanah yang ada diantara kami. Setelah bapak tersebut diatas ia
bertanya kepadaku,
“Asli mana neng?”
“Saya di Ngantang Pak”
“Oh, orang jawa?”
“Iya pak”
Kemudian kusampaikan amat Allah kepadanya. Ia menerima dengan senang
hati. Bapak ini bercerita sepanjang jalan kepadaku. Ternyata namanya ialah
Bapak Radmad. Ia hidup seorang diri di kota ini. Anaknya berada di sebuah kota
yang jauh bersama neneknya. Namun aku belum berani menanyakan keberadaan
istrinya. Tapi ia mengaku ia hidup seorang diri dan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya ia melakukan apapun yang bisa ia lakukan seperti mencari ikan ini,
kesimpulanku sementara ini ia memang benar-benar hidup sendiri dan aku belum
mampu membayangkan bagaimana keadaanku seandainya aku hidup sendiri? Bagaimana jika
kau hidup sendiri di dunia ini?
Ia memiliki anak, tentunya ia juga mempunyai istri namun ia tak dapat
hidup dengan mereka. lalu untuk apa status anak dan istrinya? Keluarga adalah
kata yang hangat, tanpa adanya kata itu mungkin aku kini telah hidup dijalanan
dengan ribuan kawan. Aku akan tenggelam dalam jurang kenistaan, dan aku akan
menghilang di keramaian.
Kau tidak pernah sendiri meski di dalam kesendirian.

No comments:
Post a Comment