Hari ke5:
Zeus Sang Pangeran I
“Mencintai adalah kesediaan hati
tersakiti, karena logika tak lagi berarti”
-sayatan hitam-
Kukira kau adalah lelaki terbaik
dalam hidupku yang pantas untuk kupuja dan kukagumi, ternyata kau hanya
laki-laki biasa, yang terlihat berbeda karena keinginanku sendiri untuk
melihatmu secara berbeda, atas semua hal biasa yang kau lakukan. Bukan salahku
aku mencintaimu, bukan pula salahmu jika tak dapat membalas rasaku. Waktu yang
mempertemukan pertemuan kita, atas janji yang dibuatnya dengan takdir. Aku
mencintaimu dalam batas diam, kuharap kau sadari adanya. Aku tak mungkin
mengungkapkan besarnya perasaanku jika nantinya itu hanya akan menjauhkanku
darimu. Kau sahabatku, kau menganggapku saudara. Begitupula aku, aku
menganggapmu saudaraku, ya... saudaraku yang akan tinggal satu rumah denganku
untuk menghabiskan sisa waktu kita dengan berbagi suka dan duka.
Asa yang kubangun merobohkan jiwaku saat ini. Seandainya kau tahu bahwa
aku mengetahui tentang apa yang tidak pernah kau rahasiakan untukku, yang
menyiksa batinku, tentang kebiasaan bejatmu bertarung dengan setiap gadis,
diatas ranjang lusuhmu. Aku mengerti dan menerimanya dengan kesakitan hati,
dengan air mata di pipi yang membanjiri tak hanya ragaku! Tapi juga hati dan
jiwaku. Begitu mudah aku jatuh cinta kepadamu, begitu mudah pula aku berharap
suatu saat kau kan berubah. Begitu mudah aku menerima segala kesakitan ini, menyaksikan
diriku digerogoti oleh keinginanku sendiri.
Berawal dari ketidaksengajaan yang direkayasa takdir kita bertemu, dalam
sebuah kelompok kecil di sebuah acara. Berawal dari menatap mata coklatmu, aku
berdiri dan memuja dewa matahari. Begitu indah dua bola mata didepanku, diterpa
cahaya dan memantulkan warna coklat muda yang mencolok. Aku cinta coklat.
Sungguh betapapun kubenci cinta pada saat itu, rasa dihatiku yang mengorasikan
namamu tak dapat kumunafikkan. Aku merasakan getaran itu lagi, dan lebih hebat
dari yang sebelumnya. Kukira hatiku sudah mati akan rasa ini, ternyata Tuhan
masih berkenan menyapaku untuk menikmati anugerah-Nya. Kau menerobos logikaku
dan menjatuhkanku dengan telak.
Aku menatapmu dengan senyum yang kau tebar murah pada saat itu.
Berkenalan dan kau mendekatiku. Rasa hangat dan nyaman yang menjalar di tubuhku
menenggelamkanku pada kebutaan untuk mengenalimu. Aku memujamu dalam satu waktu,
dan berjanji tak akan menyesalinya. Kuputuskan tanpa menimbangnya. Kau menjadi
tujuan baru hidupku dan mulai hidup didalam khayalanku. Kau tata rambutmu
sedemikian rupa hingga menyerupai milik burung nuri, berjambul kedepan. Kau
tampakkan garis wajahmu yang tegas seolah kau menyatakan kepada semua wanita
bahwa kau adalah lelaki sejati. Kau tarik semua wanita pada hatimu. Pesonamu layak
firaun yang menjelma cleopatra.
Detik yang berdetak meninggalkan masa lalu membuat kita kembali kepada
kehidupan awal tempat dimana seharusnya kita berada. Acara itu telah selesai.
Tapi hatiku masih juga belum puas menyimpan potret kita. Beberapa kawan yang
kita miliki bersama, mengajak kita mengucapkan sumpah untuk menjadi saudara.
Tak mungkin aku menolak, aku tahu kau takkan pernah kumiliki. Setidaknya kita
akan lebih dekat ketika kita simbol persaudaraan melekat di dada kita. Dengan
marga baru kita bersama kawan-kawan, yang disepakati tanpa pemukulan palu
sidang.
Kukira aku mampu melihatmu menggandeng wanita lain, memeluk, mencumbu,
menikmati tubuh mereka satu persatu dengan permainan setan kalian. Aku kira kau
akan bisa melihat keberadaan hatiku yang setiap hari memotret wajahmu. Dalam
hening aku menyimpan rasa yang hampir membuatku mati. Dan aku juga yang
menguatkannya untuk bertahan. Perdebatan logika, hati, dan komitmen pada diriku
sendiri untukmu. Dan kau hanya melihatku seperti bocah yang lugu. Dengan
segenap tindakanku, kusampaikan padamu bahwa aku sanggup menjadi bonekamu -dan
jangan pernah tinggalkan aku-.
Semakin merambatnya sang waktu, kau semakin menarikku dalam pesonamu.
Tunggu, kau kah yang menarikku? Atau hanya aku yang menarik diriku sendiri
kepadamu? Memaksakan diriku agar pantas berjalan disampingmu? Seperti layang-layang
di angkasa, aku terbang ketika kau menyentuhku, namun kau hanya menyentuhku
lewat benang panjang itu. Benang panjang yang takkan kutemukan ujungnya agar
bisa menyentuh ragamu. Hubungan rekayasa antara kita. Entah kau memahami atau
tidak setelah begitu lamanya waktu menerangi jalan kita.
Entah mengapa, yang kurasakan kau begitu menjagaku. Dalam jauhmu, kau
masih menjagaku. Menitikkan sebutir doa untuk kebaikkanku, dan selalu ada
ketika aku memanggil namamu. Kau tahu aku wanita terhebat yang menyayangimu?
Aku tidak pernah berkeras hati memaksamu meninggalkan selir-selir hatimu. Aku
juga yang mendengarkan setiap detail ceritamu dengan mereka. Demi apapun aku
tak pernah sanggup mendengarkan isi hatimu untuk wanita lain, namun aku hanya
peran pembantu dalam hidupmu. Pengamat ceritamu dan pemberi nasihat. Meski
ternyata alur cerita itu sedikit kurubah untukmu karena dalam sajak lain
kuceritakan tentang perasaanku padamu.

No comments:
Post a Comment