Friday, January 11, 2013

Zeus Sang Pangeran I


Hari ke5:
Zeus Sang Pangeran I
“Mencintai adalah kesediaan hati tersakiti, karena logika tak lagi berarti”
                                                -sayatan hitam-



 Kukira kau adalah lelaki terbaik dalam hidupku yang pantas untuk kupuja dan kukagumi, ternyata kau hanya laki-laki biasa, yang terlihat berbeda karena keinginanku sendiri untuk melihatmu secara berbeda, atas semua hal biasa yang kau lakukan. Bukan salahku aku mencintaimu, bukan pula salahmu jika tak dapat membalas rasaku. Waktu yang mempertemukan pertemuan kita, atas janji yang dibuatnya dengan takdir. Aku mencintaimu dalam batas diam, kuharap kau sadari adanya. Aku tak mungkin mengungkapkan besarnya perasaanku jika nantinya itu hanya akan menjauhkanku darimu. Kau sahabatku, kau menganggapku saudara. Begitupula aku, aku menganggapmu saudaraku, ya... saudaraku yang akan tinggal satu rumah denganku untuk menghabiskan sisa waktu kita dengan berbagi suka dan duka.
Asa yang kubangun merobohkan jiwaku saat ini. Seandainya kau tahu bahwa aku mengetahui tentang apa yang tidak pernah kau rahasiakan untukku, yang menyiksa batinku, tentang kebiasaan bejatmu bertarung dengan setiap gadis, diatas ranjang lusuhmu. Aku mengerti dan menerimanya dengan kesakitan hati, dengan air mata di pipi yang membanjiri tak hanya ragaku! Tapi juga hati dan jiwaku. Begitu mudah aku jatuh cinta kepadamu, begitu mudah pula aku berharap suatu saat kau kan berubah. Begitu mudah aku menerima segala kesakitan ini, menyaksikan diriku digerogoti oleh keinginanku sendiri.
Berawal dari ketidaksengajaan yang direkayasa takdir kita bertemu, dalam sebuah kelompok kecil di sebuah acara. Berawal dari menatap mata coklatmu, aku berdiri dan memuja dewa matahari. Begitu indah dua bola mata didepanku, diterpa cahaya dan memantulkan warna coklat muda yang mencolok. Aku cinta coklat. Sungguh betapapun kubenci cinta pada saat itu, rasa dihatiku yang mengorasikan namamu tak dapat kumunafikkan. Aku merasakan getaran itu lagi, dan lebih hebat dari yang sebelumnya. Kukira hatiku sudah mati akan rasa ini, ternyata Tuhan masih berkenan menyapaku untuk menikmati anugerah-Nya. Kau menerobos logikaku dan menjatuhkanku dengan telak.
Aku menatapmu dengan senyum yang kau tebar murah pada saat itu. Berkenalan dan kau mendekatiku. Rasa hangat dan nyaman yang menjalar di tubuhku menenggelamkanku pada kebutaan untuk mengenalimu. Aku memujamu dalam satu waktu, dan berjanji tak akan menyesalinya. Kuputuskan tanpa menimbangnya. Kau menjadi tujuan baru hidupku dan mulai hidup didalam khayalanku. Kau tata rambutmu sedemikian rupa hingga menyerupai milik burung nuri, berjambul kedepan. Kau tampakkan garis wajahmu yang tegas seolah kau menyatakan kepada semua wanita bahwa kau adalah lelaki sejati. Kau tarik semua wanita pada hatimu. Pesonamu layak firaun yang menjelma cleopatra.
Detik yang berdetak meninggalkan masa lalu membuat kita kembali kepada kehidupan awal tempat dimana seharusnya kita berada. Acara itu telah selesai. Tapi hatiku masih juga belum puas menyimpan potret kita. Beberapa kawan yang kita miliki bersama, mengajak kita mengucapkan sumpah untuk menjadi saudara. Tak mungkin aku menolak, aku tahu kau takkan pernah kumiliki. Setidaknya kita akan lebih dekat ketika kita simbol persaudaraan melekat di dada kita. Dengan marga baru kita bersama kawan-kawan, yang disepakati tanpa pemukulan palu sidang.
Kukira aku mampu melihatmu menggandeng wanita lain, memeluk, mencumbu, menikmati tubuh mereka satu persatu dengan permainan setan kalian. Aku kira kau akan bisa melihat keberadaan hatiku yang setiap hari memotret wajahmu. Dalam hening aku menyimpan rasa yang hampir membuatku mati. Dan aku juga yang menguatkannya untuk bertahan. Perdebatan logika, hati, dan komitmen pada diriku sendiri untukmu. Dan kau hanya melihatku seperti bocah yang lugu. Dengan segenap tindakanku, kusampaikan padamu bahwa aku sanggup menjadi bonekamu -dan jangan pernah tinggalkan aku-.
Semakin merambatnya sang waktu, kau semakin menarikku dalam pesonamu. Tunggu, kau kah yang menarikku? Atau hanya aku yang menarik diriku sendiri kepadamu? Memaksakan diriku agar pantas berjalan disampingmu? Seperti layang-layang di angkasa, aku terbang ketika kau menyentuhku, namun kau hanya menyentuhku lewat benang panjang itu. Benang panjang yang takkan kutemukan ujungnya agar bisa menyentuh ragamu. Hubungan rekayasa antara kita. Entah kau memahami atau tidak setelah begitu lamanya waktu menerangi jalan kita.
Entah mengapa, yang kurasakan kau begitu menjagaku. Dalam jauhmu, kau masih menjagaku. Menitikkan sebutir doa untuk kebaikkanku, dan selalu ada ketika aku memanggil namamu. Kau tahu aku wanita terhebat yang menyayangimu? Aku tidak pernah berkeras hati memaksamu meninggalkan selir-selir hatimu. Aku juga yang mendengarkan setiap detail ceritamu dengan mereka. Demi apapun aku tak pernah sanggup mendengarkan isi hatimu untuk wanita lain, namun aku hanya peran pembantu dalam hidupmu. Pengamat ceritamu dan pemberi nasihat. Meski ternyata alur cerita itu sedikit kurubah untukmu karena dalam sajak lain kuceritakan tentang perasaanku padamu.

No comments:

Post a Comment