Hari ke4: Kepercayaan Adalah Pembodohan
Kepercayaan adalah
kata yang tidak lagi terdaftar dalam kamus hidupku. Aku tak dapat lagi
mempercayai manusia sekitarku. Terlalu banyak topeng yang mereka gunakan, ya
meskipun hakikat manusia adalah berpura-pura. Aku masih terpojok di dalam
pikiranku. Aku membenci manusia,lalu kusadari aku juga manusia. Aku membenci
diriku juga.
Kepercayaan adalah
kunci pada segala hubungan yang dilakukan manusia. Kunci kebobrokan. Ya, dengan
adanya kepercayaan, mata logika telah tertutup. Segala yang memungkinkan untuk
hilang dipertegas dengannya. Kepercayaan pada diri manusia dipercaya sebagai
lambang keintiman hubungan, benarkah? Itu hanya pembodohan. Kepercayaan hanya
satu partikel, yang tak akan berarti tanpa logika.
Selama ini,
sudah berapa banyak manusia tertegun karena kepercayaannya dikhianati? Yang akhirnya
membuat mereka mengkhianati di set cerita lainnya. Kepercayaan membuat menusia
sadar dan berfikir setidaknya memang kepercayaan itu mahal. Bagai sebuah telur,
sekali pecah tidak akan lagi mampu menjadi sempurna. Memang masih ada, hanya
saja terpecah menjadi bagian yang juga sisinya dapat melukai jari. Yang dapat
menyakiti.
Hidup dalam
kepercayaan adalah kebodohan dan hidup dalam ketidakpercayaan adalah siksa. Tidak
ada yang lebih nikmat daripada mengimbangi keduanya. Namun dunia tidak pernah
imbang. Ya, atur saja sesukamu kau ada di pihak mana. Sisi-sisi yang tak pantas
dipilih namun harus dijalani. Segala perbedaan dalam diri manusia sendiri.
Percayakah
manusia bahwa ia selalu percaya pada ketidakpercayaan? Dan ia selalu tidak
percaya dengan kepercayaan. Manusia selalu meragukan yang pasti dan mempercayai
yang tidak pasti. Tidak perlu kuberikan contoh seperti komedi film 2012 tahun
lalu. Ya, hampir semua manusia bersiap untuk sesuatu yang tidak pasti. Padahal jelas
tertulis di kitab mereka, tidak ada yang dapat mengetahui kapan datangnya
kiamat itu. Dan mereka meragukan apa yang sudah pasti terjadi yang tertulis di
kitab mereka.
Mereka adalah
aku, aku adalah mereka. manusia dalam keterbatasan pikirannya selalu
menyombongkan eksistensi kepercayaan di dalam dirinya. Padahal itu akan
memakannya dan membuatnya dilumat kesedihan, kesengsaraan dan kehancuran.
Eksistensi kepercayaan yang diagungkan hanya akan membawa beribu kemunafikkan
datang, untuk kembali mengubah percaya menjadi hina.
Rasa sakit yang pernah ada di hati manusia
tidak akan benar-benar hilang

cieee pengalaman pribadi ciee :D
ReplyDeleteapa yang kau baca disini adalah apa yang aku alami. HUFT~
ReplyDeleteyah, blogku iki ngimbangi blogmu lah.
hahahahaha