K I T A
Rasaku selalu
dihinggapi perasaan yang buruk setelah mengenal kata sakit. Pertanyaan dan
pernyataan yang beradu di pikiranku memojokkanku dalam kesakitan, sungguh jika
aku bisa memilih aku ingin melepas segala perih ini. Penat yang kubuat sendiri
semakin kokoh menghimpitku. Aku semakin merasa sendiri meskipun beribu
orang sudah mendampingiku. Bagaikan
permaisuri tanpa rakyat. Aku terdiam dalam imajinasiku sendiri, tenggelam
semakin dalam. Merangkai beberapa mimpi menjadi singgasana agar aku bisa
bangkit. Namun segala firasat itu seakan memanggil rasa sakit itu sendiri.
Entah aku harus berkata apa. Aku mencintainya tanpa syarat, aku terlanjur jatuh
didalam pelukannya.
Malam itu,
segala rasa sakit yang memuncak hampir saja membunuhku. Aku dikhianati. Dan dari kesekian kalinya aku mendengar kata
penghianatan, namun ini yang terperih. Jika sebelumnya aku berkoar-koar meminta
korban agar tegar, kali ini aku yang menjadi korban. Aku terpuruk dan menjadi
bisu, aku tuli dan buta. Gelap. Tak bisa lagi aku merasakan segalanya indah.
Aku terduduk di sudut ruang, lalu mengoceh tentang kebodohan. Sungguh, kini
bibirku bahkan tidak berminat terbuka. Tubuhku kaku. Aku tak mampu mendongak.
Aku hanya bisa tertunduk dan pasrah. Jika tak bisa lagi kutahan rasa sakit ini,
izinkan aku tertidur sebentar. Aku akan memejamkan mata dan mengistirahatkan
hatiku.
Aku tertatih
mengejarmu, menarik tanganmu dan memastikan kau masih bersamaku. Ya, kau masih
bersamaku. Kau tegarkan aku laksana karang. Kau pastikan padaku bahwa kau tak
akan berpaling. Dengan hati aku tidak mampu melihat sisi otakku. Aku tak mampu
berpikir dan memilih. Sudah biarlah. Dia yang menggodamu dan kau tak tergoda,
aku yang seharusnya menguatkanmu. Ya, aku yang telah lengah hingga wanita itu
menyusup lalu menggodamu. Tegarlah sayang, kisah kita telah dikotorinya. Namun
ini adalah ujian untuk hubungan kita. Biarlah kita memijaknya dan melangkah ke
tempat yang lebih tinggi.
Aku ingin
meraih tanganmu dan menggenggamnya seperti dahulu. Aku ingin menghabiskan waktu
bersamamu, seperti saat-saat bahagia kita biasanya. Kau dan aku. Hanya kau dan
aku. Jika kita harus tertawa, sebaiknya bersama. Jika kita dilanda duka,
sebaiknya berbagi. Berdiri dan genggamlah tanganku dengan alunan lagu kita.
Kita. Rasa nyaman menyentuhku setiap kau mengucapkan kata “kita”. Karena kita
lebih berarti daripada aku, karena kita lebih baik daripada kamu. Dalam ikatan
doa, kita akan bersama. Yakinkan hatimu dan hatiku, biarlah mereka bersanding
kembali, karena ada doa diantara kita.
Aku ingin di
suatu malam, kita bersama. Terlentang diatas pasir dan memandang bintang, lalu
menunjuk bintang kita. Aku ingin disuatu malam, aku dan kau duduk bersandar dan
memperhatikan kerlip lampu kota dari sebuah puncak yang menyentuh awan. Aku
ingin disuatu malam, kau dan aku berjalan menyusuri sebuah kota dengan
bergandeng tangan. Aku ingin kau bersamaku setiap malam. Menghabiskan sisa hari
kita bersama dalam tawa, membagi segala beban agar tak lagi terasa berat.
Memastikan kita selalu bersama. Kita, sayang.

No comments:
Post a Comment