Tuesday, November 26, 2013

Lalu Bagaimana?


Lalu Bagaimana?


Aku terjatuh lagi,
Pada satu rasa yang membuatku geli
Betapa tidak? aku mengalaminya lagi dan lagi
Namun tak juga menemukan pola yang pasti.
Mereka menyebut ini dengan naluri hati.
Semudah itukah percaya nurani?
Jika tak berat hati,
Aku ingin membodohkan diri.
Diri yang jatuh pada rasa yang sama berulang kali.
Diri yang terbuai indahnya fatamorgana sunyi.
Diri yang menghempas pasrah pada bias empati.
Menghadirkan nyanyian elegi.
Kau sebut ini cinta?
Padahal penuh derita.
Padahal bersajak lara.
Padahal meringsuk duka.
Lalu apa guna asa?
Jika lagi lagi terulang luka.
Lalu bagaimana dengan nasib sang pujangga?
Penyair pemuja rasa,
Yang selalu menakdirkan dirinya menderita.
Padahal ia bisa bahagia.
Lalu bagaimana dirinya ada?
Ketika pikir dan lakunya dikudeta.
Oleh harapan semu berbalasnya rasa.
Oleh bahasa bahasa hampa.
Oleh wajah sang persona.
Lalu bagaimana?
Aku tak ingin diam dalam ragu.
Meski otak tak juga berkata mampu.
Meski rongga tubuh mulai layu.
Berharap ada waktu mengusir sendu.
Setapak dalam diam menggemuruh rindu.
Tidak, jangan tertipu.
Apalagi yang ingin kutahu?
Ketika cinta yang mulai merayu
Menghadirkan keindahan-keindahan semu
Sakit akan hadir menggelayuti kalbu
Menjadikannya abu.
Kembali ke sebuah masa lalu.
Mengulang duka menjadi candu.



-diantara sepi yang temaram, CDMA. 27102013-

No comments:

Post a Comment