Kita Tak untuk Satu
Yang aku tahu saat menatapmu, ada sebuah pesan yang ingin kau sampaikan. Namun
aku tak dapat memahaminya. Benarkah? Atau hanya asa ku yang memaksa untuk
mengerti detail dirimu?
Salahkan aku, keadaan yang menuntunku berjalan menaungi kisah hidupmu. Rasa
ingin tahuku yang melebihi batas wajar, yang terus menghantuimu, bukan salahmu!
Bukan salah keadaan! Salahku. Yang mempermainkan keadaan dan memanfaatkan
kehadiranmu.
Namun membuat diriku terpojok dengan menyalahkan rasa ini tidak akan
pernah berguna. Udara telah merekam segala laku kita. Ia tahu, mengapa kau pantas
menerima rasa ini.
Jika nanti aku tenggelam alam alur hidupku, jangan kau pikir aku lupa
tentang ceritamu. Kisahmu telah kusimpan rapi dalam salah satu almari di hati. Untuk
menggenggam tatapan tajam mata sinismu, salah satu yang meluluhkanku.
Berlarilah sekuatmu, aku selalu memperhatikan punggungmu. Dan mengimajinasikan
satu saat aku dapat meloncat keatasnya, memelukmu dari belakang. Namun kau
tertawa riang. Dengan canda seperti kau dengan lainnya.
Tidak perlu ku bersedih terseok meniti jejakmu. Ribuan wanita lain juga
kan melakukannya, jika akirnya dapat bersanding disampingmu. Namun kau dan aku
tahu, takdir menggariskan perbedaan di ujung jalan kita. Jadi kau tak perlu
takut berakhir denganku.

No comments:
Post a Comment